Para Imigran Harus Belajar Jadi Orang Tua ala Amerika

Para ayah di Amerika semakin terlibat urusan pengasuhan anak dibandingkan sebelumnya (foto: 13/6).

Di Amerika, negara kaum imigran, cara tiap keluarga membesarkan anak semakin dipengaruhi keadaan yang berbeda dengan tradisi di negara tempat asal mereka.
Pada hari yang cerah dan panas di kota New York, anak-anak bermain di taman, menikmati semprotan air. Di pinggir taman, jumlah ayah dan ibu yang mengawasi anak-anak itu bersenang-senang, sama banyaknya.

Itu bukanlah pemandangan aneh. Para ayah di Amerika semakin terlibat urusan pengasuhan anak dibandingkan sebelumnya.

Wayne Ho senang membantu merawat putrinya yang berusia delapan bulan. Tetapi ayah Wayne, etnis Tionghoa, tidak terlibat urusan pengasuhan dalam membesarkan Wayne dan saudaranya setelah keluarganya pindah dari Singapura ke California.

Menurut Ho, menjadi orangtua aktif menimbulkan kendala pada karirnya. Hal itu tidak dialami ayahnya.

Bibi, paman, dan sepupu adalah bagian tumbuh kembang anak dalam tradisi Tionghoa. Ho melihat ayahnya menanamkan warisan tradisi budayanya dengan sangat serius. Ia dan adiknya, misalnya, tidak diizinkan belajar bahasa Inggris sampai mereka masuk Taman Kanak-Kanak, dan hari-hari libur Tiongkok dirayakan dengan semarak.

Sedangkan bagi Mulusew Bekele, menjadi ayah "bergaya Amerika" sering menuntut lebih banyak negosiasi dibandingkan ketika ia kecil dulu di Ethiopia, di mana menurutnya, perasaan seorang anak tidak dipedulikan seperti di Amerika.

Tetapi, kenyataan itu kini berbeda. Bekele menerapkan pengasuhan gaya Amerika terhadap puteranya yang berusia 11 tahun.

Ayah Bekele sangat keras dalam mendidik anak. Di Ethiopia, ia ingat, adalah hal biasa bila para ayah, bahkan guru, memukul dengan alasan mengajar atau mendisiplin anak.

Bekele merasa beruntung ia tidak harus memukul atau memberlakukan hukuman fisik terhadap anaknya.

“Hubungan saya dengan anak saya cukup baik, sehingga ia tahu apabila ia melanggar batas. Saya beritahu, dia sudah keterlaluan, maka dia akan berhenti,” paparnya.

Seperti ayah mereka yang lebih tradisional dalam membesarkan anak, Mulusew Bekele maupun Wayne Ho sangat percaya pada pentingnya pendidikan. Mereka berharap anak-anak mereka bisa menikmati peluang besar sebagai imigran generasi kedua. Namun, keduanya juga ingin anak-anak mereka dibolehkan menciptakan masa depan sendiri, dengan cara mereka sendiri.

Seperti kata Ho, "mengikuti bintang sendiri seraya berusaha keras menjaga kehormatan keluarga, dengan cara Amerika."