Panglima Militer Thailand Kendalikan Hampir Seluruh Kekuasaan

  • Steve Heman

Panglima militer Thailand, Jendral Prayuth Chan-ocha kini mengendalikan hampir seluruh kekuasaan pemerintahan pasca kudeta militer (foto: dok).

Panglima militer Thailand, Jenderal Prayuth Chan-ocha hari Kamis (12/6) ditunjuk memimpin komisi untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah di negara itu.
Setelah junta militer itu melibatkan dirinya dalam berbagai proses mulai dari reformasi politik hingga lembaga penyiaran mana yang boleh menayangkan pertandingan Piala Dunia, sebagian pihak mengatakan para jendral itu terlalu mengatur hingga hal-hal terkecil.

Para anggota dewan maskapai penerbangan negara tidak boleh lagi bepergian dengan gratis. Pelajaran tentang kewajiban warga negara harus dimasukkan dalam kurikulum ilmu sosial di sekolah.

Akhir pekan ini, akan ada tayangan gratis diseluruh pelosok Thailand sebuah film tentang raja yang berkuasa disana 400 tahun lalu. Pemerintah juga menindak keras mafia taksi di sebuah lokasi wisata populer di pesisir Laut Andaman.

Itu adalah beberapa keputusan dan kebijakan baru militer Thailand sejak kudeta tanggal 22 Mei lalu.

Panglima militer – yang kini memegang semua kekuasaan kecuali yang dipegang oleh raja yang sudah sakit-sakitan, membenarkan kudeta tersebut dengan alasan kebuntuan politik yang berkepanjangan telah menjadi krisis keamanan nasional.

Jendral Prayuth Chan-ocha berjanji akan memulihkan demokrasi, tetapi hanya sesudah pemberlakuan reformasi yang fundamental.

Jendral itu, yang merebut kekuasaan lewat kudeta tidak berdarah, menunjuk seorang panglima angkatan udara untuk mengurus ekonomi dan seorang komandan angkatan laut untuk memimpin sektor pariwisata yang penting.

Analis Michael Montesano, yang memimpin program kajian Thailand pada Institute of Southeast Asian Studies, mengatakan, “Sejauh ini, kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh junta militer itu menunjukkan bahwa berbagai keputusan ekonomi diambil oleh sekelompok tentara yang punya pemahaman yang sangat dangkal tentang perkonomian.”

Tapi ada satu keputusan sebelum turnamen Piala Dunia 2014 di Brazil yang disambut baik. Junta militer itu melakukan intervensi dalam sengketa hukum tentang hak penyiaran dan memutuskan ke-64 pertandingan sepakbola itu harus disiarkan lewat saluran-saluran TV yang gratis.

Jendral Prayuth, tentara karir berusia 60 tahun dengan penampilan yang serius, berulang kali menegaskan kudeta itu seharusnya dirayakan dengan tema “kebahagiaan.”

Sebagai promosi, ia segera menulis lirik sebuah lagu baru, “Returning Happiness to the People” atau Mengembalikan Kebahagiaan Rakyat. Video lagu itu telah ditonton hampir 220.000 kali di situs YouTube.

Dengan latar belakang musik oleh band Angkatan Darat Kerajaan Thailand, seorang penyanyi melantunkan lirik gubahan jendral itu tentang Thailand yang menghadapi “bahaya” ditengah “nyala api yang berkobar.” Lagu itu menjanjikan kebahagiaan akan segera kembali berkat rakyat yang mengizinkan militer campur tangan “sebelum semuanya terlambat.”

Militer Thailand sudah beberapa kali melakukan intervensi. Ini adalah ke-19 kali militer berupaya atau sukses melakukan kudeta sejak tahun 1932. Berbagai kalangan dalam politik Thailand yang sangat terpecah enggan memprediksi apakah para jendral itu akan menyanyikan lagu itu lagi di tahun-tahun mendatang.