Pakistan Perumit Hubungan Nuklir dengan Saudi, Iran

Rudal "Ra'ad" tenaga nuklir milik Pakistan dipamerkan dalam parade militer Hari Nasional di Islamabad, 2008. (Foto: Dok)

Arab Saudi, yang merupakan rival Iran, dilaporkan telah mencoba menetralisir ancaman potensial nuklir Iran dengan cara membentuk sekutu strategis dengan Pakistan.

Menteri Luar Negeri Iran dijadwalkan tiba di Pakistan Rabu (8/4) untuk membahas konflik di Yaman, yang banyak orang lihat sebagai adu pengaruh antara rival-rival regional Iran dan Arab Saudi.

Iran baru-baru ini telah mencapai kerangka kerja persetujuan nuklir dengan enam negara kuat dunia. Arab Saudi, sebelumnya, dilaporkan telah mencoba membentuk aliansi nuklir sendiri untuk melawan ancaman Iran.

Saat Iran bersiap untuk kemungkinan mengekang potensi senjata dari program nuklirnya, rivalnya di Timur Tengah, Arab Saudi, mengawasi dengan seksama. Selama bertahun-tahun, salah satu cara Saudi untuk mencoba menetralisir ancaman potensial Iran dilaporkan dengan cara membentuk sekutu strategis dengan Pakistan.

Negara Asia Selatan ini ada dalam posisi yang tidak biasa.

Pada satu sisi, negara itu telah menjual rahasia nuklir ke Iran melalui jaringan yang dikelola mantan kepala ilmuwan nuklir Pakistan A.Q. Khan. Namun itu di masa lalu, ujar ahli fisika nuklir Abdul Hameed Nayyer.

“Hubungan perdagangan A.Q. Khan juga termasuk Iran. Dan program sentrifugal Iran telah mendapat keuntungan dari rancangan-rancangan Pakistan," ujar Nayyer.

Di sisi lain, Pakistan dikatakan telah menjanjikan payung nuklir untuk rival Iran, Arab Saudi.

Meski dugaan ini tidak pernah terbukti, hal itu barangkali muncul dari sejarah program nuklir Pakistan.

"Kita tahu bahwa program nuklir Pakistan disubsidi secara besar oleh orang luar, dibiayai pihak luar, dan kita tahu salah satu dari perjanjian itu diketahui kemudian," ujar Nayyer.

Perjanjian yang dimaksud adalah dengan Libya, yang kemudian mengabaikan program nuklirnya dan menyerahkan peralatannya ke Amerika Serikat.

"Jika Arab Saudi juga membiayai program nuklir Pakistan, ada kemungkinan Saudi juga menuntut hal yang sama dari Pakistan," ujar Nayyer.

Meski tidak ada bukti nyata Saudi membiayai program senjata nuklir Pakistan, para kritik merujuk pada bantuan tambahan.

Setelah Pakistan melakukan uji coba peralatan nuklirnya dan mendapat sanksi-sanksi internasional, Arab Saudi memberikan minyak dengan pembayaran yang tertunda selama tiga tahun dan kemudian menghapus beberapa pembayaran.

Putra Mahkota Saudi, Sultan bin Abdul Aziz, diberikan tur keliling fasilitas nuklir Pakistan pada 1999, tak lama setelah uji coba nuklir Pakistan. Pakistan mengklaim ia tidak diperlihatkan program senjata.

​Awais Laghari, kepala komite luar neger Majelis Nasional Pakistan, mengatakan meski hubungan kedua negara sangat baik, Pakistan tidak akan membagi senjata nuklir atau cara membuatnya.

"Pakistan tidak mampu melakukannya. Kami bukannya tidak bertanggung jawab semacam itu. Program nuklir Pakistan sendiri akan menjadi taruhan dan saya yakin tidak ada negara yang dapat meyakinkan kita untuk mencoba mepertaruhkan program kami, dan kami tidak percaya pada tindakan tidak bertanggung jawab seperti itu di masa yang akan datang," ujar Laghari.

Nayyer berharap Laghari benar. Ia mengakui bahwa dukungan nuklir Pakistan pada Iran berhenti setelah jaringan A.Q. Khan diungkap.

Dan ia merasa perubahan lingkungan internasional mungkin telah meyakinkan Pakistan bahwa biaya pengayaan nuklir sekarang terlalu tinggi.​