NATO akan Terus Bom Pasukan Gaddafi Selama Warga Sipil Terancam

Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen

Sekjen NATO mengatakan hal ini di Brussels hari Rabu setelah bertemu delegasi pemberontak Libya yang dipimpin Mahmoud Jibril.

Sekretaris Jendral NATO Anders Fogh Rasmussen memberitahu para pemberontak Libya, bahwa pasukan sekutu akan terus membom pasukan pemimpin Libya Moammar Gaddafi selama pasukan ini terus mengancam warga sipil.

Anders Fogh Rasmussen berkata demikian di Brussels hari Rabu setelah bertemu delegasi pemberontak Libya yang dipimpin Mahmoud Jibril, yang menjelaskan kepadanya mengenai kemajuan dalam pergolakan lima bulan, menentang kepemimpinan Gaddafi yang sudah mencapai 42 tahun. Kepala NATO itu mengatakan pemimpin Libya Moammar Gaddafi telah “kehilangan seluruh legitimasi” dan harus meletakkan jabatan sebagai bagian dari “solusi politik” atas konflik itu.

Pasukan NATO telah melancarkan serangan udara atas pasukan keamanan Gaddafi sejak bulan Maret, berdasarkan mandat Dewan Keamanan PBB untuk menggunakan kekuatan guna melindungi warga sipil Libya.

Delegasi pemberontak Libya juga memperoleh dukungan diplomatik dari pembicaraan di Brussels dengan para menteri luar negeri Belgia, Belanda dan Luxembourg, yang mengatakan mereka mengakui para pemberontak sebagai “wakil sah” rakyat Libya.

Tetapi para pemberontak menghadapi kecaman dari LSM HAM yang berbasis di Amerika, yang menuduh mereka dan pendukungnya telah merusak properti, menjarah rumah sakit dan rumah-rumah, dan memukuli mereka yang setia kepada Gaddafi di Libya Barat.

Human Rights Watch menghimbau para pemberontak untuk melindungi warga sipil dan minta pertanggungjawaban para pejuang atas tuduhan pelanggaran di kota al-Awaniya, Rayayinah, Zawiyat al-Bagul dan al-Qawalish.

Human Rights Watch mengatakan seorang komandan pemberontak di wilayah itu mengkonfirmasi bahwa berbagai pelanggaran telah terjadi dan sejumlah orang telah dihukum. Kelompok HAM itu juga mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan serangan “berulangkali” oleh pasukan pemerintah Libya terhadap warga sipil di beberapa daerah yang sama dalam dua bulan ini, termasuk penggunaan ranjau darat.