Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak kerumunan peserta pesta karnaval di sebuah kota kecil di bagian selatan Belgia pada Minggu (20/3) pagi, menewaskan enam orang. Sepuluh orang lainnya luka kritis dan puluhan luka ringan.
Menteri Dalam Negeri Belgia Annelies Verlinden mengatakan “apa yang seharusnya menjadi pesta besar, berubah menjadi tragedi.”
Kantor Kejaksaan Belgia mengatakan penyelidikan tahap awal tidak menemukan unsur-unsur untuk mencurigai insiden itu bermotif teror, dan dua warga lokal berusia 30an ditangkap di tempat kejadian di Strépy-Bracquegnies, sekitar 50 kilometer selatan Brussels.
Topi bulu burung unta 'Gilles of Binche' selama parade karnaval di Binche, Belgia, Selasa, 21 Februari 2012. (Foto: AP/Yves Logghe)
Dalam tradisi kuno, orang-orang yang bersuka ria untuk mengikuti karnaval berkumpul di saat fajar dan menjemput orang-orang lain di rumah mereka yang terletak di sepanjang jalan menuju lokasi karnaval, untuk kemudian melangsungkan pesta yang sudah dilarang selama dua tahun terakhir untuk melawan perebakan luas COVID-19. Sebagian orang mengenakan pakaian warna-warni dengan lonceng, berjalan di belakang tetabuhan. Hari ini sedianya menjadi hari pembebasan.
Sebaliknya, kata Wali Kota Jacques Gobert, “apa yang terjadi mengubah perayaan itu menjadi bencana nasional.”
Lebih dari 150 orang dari berbagai usia telah berkumpul sejak pukul 05.00 dan berdiri di tengah kerumunan yang padat di sepanjang jalan yang panjang dan lurus. Tiba-tiba “sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju. Ada sejumlah orang luka-luka, dan sayangnya beberapa orang tewas,” ujar Gobert.
Pengemudi dan orang kedua ditangkap ketika mobil mereka berhenti beberapa ratus meter setelah menabrak kerumunan massa itu.
BACA JUGA: Belgia Cari Tersangka Penyerangan Museum YahudiSejak Belgia dilanda serangan teror kembar di Brussel dan Zaventern yang menewaskan 32 warga sipil enam tahun lalu, warga selalu dihantui motif teror. Namun Jaksa Damien Verheyen mengatakan “tidak ada unsur dalam penyelidikan saat ini yang memungkinkan saya untuk mempertimbangkan bahwa motif kedua tersangka pelaku adalah teror.”
Kantor Kejaksaan juga membantah laporan media bahwa kecelakaan itu mungkin disebabkan oleh mobil yang dikejar polisi.
Raja Philippe dan Perdana Menteri Alexander De Croo diperkirakan akan tiba di Strépy-Bracquegnies pada Minggu (20/3) malam untuk menyampaikan dukungan bagi keluarga dan para korban.
Karnaval di daerah ini sangat populer dan versi lain di Binche bahkan telah dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. [em/ah]