Meski Terima Paket Bantuan, Maskapai Penerbangan Masih Rencanakan PHK

Beberapa pesawat milik maskapai penerbangan American Airlines 'diistirahatkan' di Bandara Internasional Sky Harbor di Phoenix, Arizona, akibat pandemi corona, 25 Maret 2020. (Foto: dok).

Paket-paket penyelamatan berjumlah besar bagi beberapa maskapai penerbangan terbukti tidak cukup. Perusahaan-perusahaan besar berencana melakukan PHK sementara mereka berupaya keras mengatasi kemerosotan dalam perjalanan udara yang akan membuat industri penerbangan jauh lebih kecil daripada sebelum pandemi virus corona melanda dan mengguncang ekonomi global.

American Airlines dan United Airlines berencana memangkas 30 persen staf manajemen dan pendukung mereka. Delta Airlines menyatakan akan memperpanjang masa penawaran pensiun dini dalam upaya membatasi PHK pada musim gugur mendatang.

“Meskipun kami tidak pernah bermimpi beberapa bulan silam bahwa kami akan membahas tentang Delta yang mengecil, inilah kenyataan yang kami hadapi,” kata CEO Delta Ed Bastian dalam memonya kepada karyawan.

Pesawat milik maskapai penerbangan Delta Airlines sedang menurunkan muatannya di Bandara Internasional Salt Lake City di Salt Lake City, Utah, 14 April 2020. (Foto: dok).


Tindakan ini tidak mengejutkan, kata pakar transportasi Cliff Winston dari lembaga kajian Brookings Institution. Ia mengingatkan bahwa tugas maskapai penerbangan adalah menggunakan sumber daya mereka secara efisien. Tidak ada gunanya jika mereka tidak menempuh rute-rute yang pernah mereka lalui dan jelas mereka mengurangi daerah operasi mereka. Karena permintaan juga turun drastis, tenaga kerja yang diperlukan juga jauh lebih sedikit, ujar Winston.

Volodymyr Bilotkach, penulis The Economics of Airlines mengemukakan bahwa dalam lima tahun ini, jumlah tenaga kerja di maskapai penerbangan berkembang lebih besar daripada pengguna layanan mereka.

Ia menyatakan memahami margin keuntungan bagi maskapai penerbangan sangat tipis dan masih ada banyak hal yang belum diketahui. Tetapi ia juga terkejut pada PHK yang direncanakan sejumlah maskapai mengingat perusahaan-perusahaan itu baru saja menerima paket penyelamatan dari pemerintah.

Di seluruh dunia, maskapai penerbangan telah mengandangkan sekitar 15 ribu jet, lebih dari separuh armada global, dan membuat sejumlah pesawat mengangkut barang untuk menambah pendapatan.

Pesawat milik maskapai penerbangan Ethiopian Airlines di Bandara Internasional Bole di Addis Ababa, Ethiopia, saat pandemi corona, 7 April 2020.

Di Addis Ababa, para teknisi Ethiopian Airlines belakangan ini sibuk mengubah sebagian pesawat mereka, dari pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Ethiopian Airlines mencatat kerugian 550 juta dolar antara Januari dan April, tetapi CEO perusahaan itu, Tewolde GebreMariam, menyatakan ia optimistis.

Maskapai penerbangan Afrika lainnya mungkin sulit untuk bertahan. Sebagian telah menumpuk utang jauh sebelum pandemi, tetapi paket dana talangan pemerintah membuat mereka beroperasi meski dengan susah payah selama bertahun-tahun.

EasyJet, perusahaan penerbangan murah yang berbasis di London juga melakukan pemangkasan, sekitar sepertiga dari 15 ribu karyawannya.

Beberapa maskapai penerbangan besar telah mengajukan perlindungan dari kebangkrutan, di antaranya South African Airways, Virgin Australia serta dua maskapai terbesar di Amerika Latin, Latam dan Avianca. Ini menegaskan beratnya tantangan finansial yang dihadapi industri perjalanan akibat lockdown, karantina dan berbagai langkah lain yang diterapkan pemerintah. [uh/ab]