Mengenang John Lennon 30 Tahun Kemudian

  • Adam Phillips

Dalam foto yang diambil pada tanggal 13 Mei 1968 ini, John Lennon tampil di sebuah jumpa pers di Hotel Americana di New York.

Tiga dekade setelah kematiannya, pesan musik pentolan The Beatles ini masih memiliki gaung yang luas.

Tiga puluh tahun setelah tewas di tangan penggemarnya pada tanggal 8 Desember 1980, musik-musik John Lennon dan kepribadiannya masih memiliki gaung yang luas. Ini terasa khususnya sehingga di New York, tempat Lennon tinggal bersama istrinya, Yoko Ono, sebelum wafat.

Kenangan Terakhir

Strawberry Fields adalah nama sebuah pojokan di Central Park yang didedikasikan untuk memori John Lennon. Strawberry Fields berjarak hanya sekitar 50 meter hanya dari gedung apartemen tempat ia tinggal. Para turis dan penggemar kerap mampir di sini untuk mengenang Lennon, sebagian sambil merenung, sebagian lagi sambil bernyanyi.

"Rasanya sangat damai, seperti berada di rumah saja," kata seorang pria yang duduk-duduk di taman. "Saya merasa lebih dekat dengannya (Lennon) dengan berada di sini."

Sekelompok penggemar berkumpul di Strawberry Fields di Central Park, New York, menyanyikan lagu-lagu John Lennon dan The Beatles pada hari ulang tahun Lennon 9 Oktober lalu.

Tiga dekade yang lalu, seorang penggemar fanatik dengan musisi ini mengarahkan senjatanya kepada Lennon, tembakan yang menewaskan personil The Beatles itu. Pembunuhan ini mengejutkan seluruh dunia. Fotografer rock-n-roll Bob Gruen, yang mengenal John Lennon sebagai seorang teman, mengaku masih merasa kehilangan.

"Ketika Anda mendapatkan luka mendalam, akhirnya luka akan sembuh. Tapi, luka tersebut meninggalkan bekas dan ketika Anda menyentuh bekas lukanya, Anda masih merasa sakit," ujar Gruen menggambarkan rasanya ditinggal pergi Lennon.

Gruen mencoba menyimpulkan apa yang khusus tentang temannya. "Dia tidak mengatakan hal yang orang tidak tahu Bahkan, ia bilang semua orang sudah tahu apa yang ia katakan. Tapi ia menyampaikannya dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dimengerti. Dia hanya punya cara ajaib dalam mengungkapkan berbagai hal."

Musik yang Memiliki Arti

Lennon menulis lagu melankolis "In My Life" di awal karir The Beatles. Nada lagu ini sangat kontras dengan lirik manis yang lazim bagi kelompok band pria saat itu.

John Lennon dan Yoko Ono mengadakan aksi 'Bed-In for Peace' di Amsterdam dan Montreal untuk memrotes perang AS di Vietnam. Foto ini diambil di Hotel Hilton di Amsterdam pada tanggal 5 Maret 1969.

Reporter Larry Kane, penulis "Lennon Revealed," mengenal para personil The Beatles selama band tersebut melakukan tur keliling Amerika.

"John Lennon adalah orang yang sangat marah dan sakit hati sebagian besar hidupnya. Ia lahir dari seorang ayah yang tak pernah ada di sisinya, seorang ibu sering menghilang. Dia punya seorang sahabat yang meninggal akibat pendarahan otak pada usia 20," kata Kane. "Tapi, di sisi lain dari semua itu, semua obat-obatan dan semua masalahnya, ia juga salah satu orang yang paling luar biasa yang pernah saya temui dalam hal kemampuannya untuk mengatasi setan-setan yang mengintai di dalam dirinya dan menghasilkan musik dan puisi yang indah. "

Lennon juga menghasilkan musik yang sangat politis.

"Saya pikir dia adalah seorang yang berani, dia sangat yakin dengan dirinya dan mengambil posisi politik dari awal. Dia mengambil isu-isu langsung dari koran hari tersebut," kata edtior Newsweek Jeff Giles, yang banyak menulis tentang Lennon.

"Dia ingin musiknya memiki arti. Untuk menjadi terkenal dan masih mengambil resiko demi apa yang Anda percayai, ini berarti mendalam bagi banyak orang."

Lennon sering memanfaatkan ketenarannya untuk mengirim pesan dengan cara teatrikal. Pada awal 1970-an, ia dan istri Yoko Ono merekam "Give Peace A Chance," dalam sebuah kamar hotel di Montreal dengan teman-teman mereka selama pasangan ini melakukan aksi seminggu yang dinamakan "Bed-In for Peace."

Kehidupan Keluarga

Sebuah momen penting untuk Lennon datang pada tahun 1971, ketika ia meninggalkan tanah airnya, Inggris, untuk menetap di New York City dengan Ono. Fotografer Bob Gruen mengatakan Lennon melihat kota "The Big Apple" ini sebagai pusat dunia seni dan budaya, dan dia dapat "menyatu" dengan kota ini.

"Di Inggris, orang-orang akan mengejarnya di jalan dan histeris ketika mereka melihat dia. Tapi di New York, orang-orang sering melihat banyak orang terkenal. Tapi, kami tipe orang yang sibuk, dan semua orang terburu-buru," kata Gruen. "Jadi, dia bisa pergi ke toko di sudut jalan, membeli koran, dan pergi ke kedai espresso dan minum kopi sambil membaca koran, dan orang-orang tidak akan mengganggu dia," kata Gruen. "Dia bisa seperti normal orang di sini."

Pada tahun 1975, ketika ia berusia 35 tahun, Lennon berhenti menulis dan merekam musik.

Selama lima tahun berikutnya, ia mendedikasikan dirinya sebagai suami dan ayah bagi Sean, putra pasangan Lennon-Ono, sedangkan sang istri menangani bisnis jutaan dolar musik. Ini pembalikan peran jender tidak biasa untuk masa itu.

Pada tahun 1980, pasangan tersebut merekam dan merilis album baru yang disebut "Double Fantasy." "Starting Over," menjadi single hit John Lennon yang terakhir.

</form>