Mengamati Piranti Pendidikan bagi Tunanetra di AS

Kristin Turgeon (11 tahun) membaca buku Harry Potter dalam huruf braille di Boston, Massachusetts (Foto: dok).

Sebuah perusahaan penerbit di Kentucky membuat piranti pendidikan dan buku-buku khusus bagi tunanetra.
Di Amerika, terdapat sebuah perusahaan yang selama lebih dari 130 tahun telah memproduksi alat-alat pendidikan yang dikhususkan bagi para siswa tunanetra atau mereka yang mengalami gangguan penglihatan.

American Printing House yang terletak di Louisville, Kentucky, penerbit terbesar di dunia, memproduksi mulai dari buku-buku sampai peta. Buku-buku itu disertai rekaman suara. Kitab suci kegemaran mendiang Helen Keller, penulis sekaligus guru tunanetra dan tunarungu yang terkenal itu, juga dicetak di perusahaan tersebut.

Museum dalam gedung perusahaan itu juga menyimpan buku pertama untuk orang buta. Museum itu menggunakan huruf-huruf timbul, A, B, C, dan seterusnya, di permukaan halaman buku. Buku itu dicetak di Prancis tahun 1786, sebelum warga Perancis bernama Louis Braille menemukan sistem tulisan timbul yang menggunakan titik-titik yang bisa dibaca dengan meraba dengan jari-jari.

Para pengunjung museum tersebut bisa membuat tulisan huruf braille dengan menggunakan mesin ketik khusus. Mereka juga bisa melihat alat tulis, seperti pena dan batu tulis, yang dibuat untuk membantu tunanetra menulis di atas kertas.

Majalah-majalah populer versi braille, termasuk Reader’s Digest, Newsweek, dan Weekly Readers, untuk anak muda dibiayai dengan donasi umum. American Printing House bahkan membuat formulir pembayaran pajak federal versi braille, dan juga bahan-bahan kimia, serta buku pedoman mengenai topik-topik seperti cara merajut.

Library of Congress atau perpustakaan Kongres Amerika di Washington mendanai produksi sekitar 500 buku audio atau talking books setiap tahun.

Seperti penerbit manapun, American Printing House memeriksa semua bukunya sebelum mencetaknya secara besar-besaran. Untuk itu diperlukan dua orang. Seorang tunanetra membaca tulisan braille itu dengan jari-jarinya, mengucapkan kata-kata dan memberi tanda kepada orang yang bisa melihat, yang membandingkan itu dengan naskah aslinya.

Direktur American Printing House, Tuck Tinsley, mengatakan bahwa bagi pembaca tunanetra dan pembaca yang dapat melihat, tidak ada yang lebih penting daripada memegang buku dan membacanya menurut kecepatan baca masing-masing.