Sebuah KTT penting PBB mengenai perlindungan keanekaragaman hayati resmi dibuka di China dan secara daring pada hari Senin (11/10), ketika negara-negara bertemu untuk menangani masalah polusi dan mencegah kepunahan massal, beberapa pekan sebelum konferensi iklim COP26.
Beijing, pencemar terbesar di dunia, telah berusaha memosisikan diri dalam beberapa tahun ini sebagai pemimpin dunia dalam isu-isu iklim setelah penarikan mundur Washington dari komitmen-komitmen internasionalnya pada masa pemerintahan mantan presiden Donald Trump.
Dalam sidang online yang dimulai pada Senin sore, para pihak dalam Konvensi mengenai Keanekaragaman Biologi (CBD) berusaha menyusun rincian dokumen baru yang akan menetapkan target-target untuk melindungi ekosistem sebelum 2030. Sidang online ini merupakan persiapan sebelum pertemuan tatap muka pada April mendatang.
Yang diperdebatkan adalah rencana “30 by 30” untuk memberi status perlindungan pada 30 persen lahan dan lautan, suatu langkah yang didukung oleh koalisi luas negara-negara, serta target untuk berhenti membuat sampah plastik.
China belum berkomitmen pada rencana tersebut.
Penari tampil di luar tempat Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP 15) di Kunming, provinsi Yunnan barat daya China, 11 Oktober 2021. (Foto: STR / AFP)
Pertemuan COP 15 tahun ini, yang diselenggarakan di Kunming, kota di bagian barat daya China , pada mulanya ditetapkan berlangsung pada 2020 dan ditunda karena pandemi COVID-19.
Sekitar satu juta spesies hewan dan tanaman terancam punah di tengah perambahan habitat oleh manusia, eksploitasi berlebihan, polusi, penyebaran spesies invasif dan perubahan iklim.
CBD telah diratifikasi oleh 195 negara dan Uni Eropa tetapi tidak oleh AS, pencemar terbesar dunia, dengan para pihak bertemu setiap dua tahun.
Perselisihan mengenai target
China Jumat lalu menyatakan telah “memberi prioritas tinggi bagi perlindungan keanekaragaman hayati dengan membentuk jaringan daerah-daerah yang dilindungi dan taman-taman nasional.”
Pekan ini di Beijing diperkirakan akan mengungkapkan pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Kunming, yang akan menunjukkan karakter kepemimpinannya dalam masalah lingkungan.
Tetapi masih ada perbedaan pendapat tajam mengenai target-target untuk tindakan mendesak selama dekade berikutnya.
BACA JUGA: Harrison Ford Bicara dalam KTT Global Keanekaragaman HayatiPrancis dan Costa Rica termasuk di antara koalisi yang mendukung prakarsa untuk menetapkan 30 persen lautan dan daratan yang dilindungi sebelum 2030.
Tetapi sewaktu para ilmuwan menyerukan perlindungan yang lebih ambisius terhadap separuh keanekaragaman hayati Bumi, Brasil dan Afrika Selatan menentang keras.
Sumber ketegangan lainnya berkisar mengenai pembiayaan. Negara-negara berkembang meminta negara-negara kaya untuk menyumbang biaya transisi ekologi mereka.
Isu ini akan menjadi inti dari sesi perundingan yang akan berlangsung di Jenewa pada Januari 2022. [uh/ab]