Kremlin Sangkal Campuri Pemilu AS 2020

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov

Juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov, Rabu (17/3), mengatakan laporan intelijen AS yang mengindikasikan Rusia ikut campur dalam pemilu AS 2020 "tidak benar dan sama sekali tidak berdasar dan disertai bukti."

Peskov bereaksi terhadap laporan yang dirilis Selasa oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional (DNI) AS. Laporan itu mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui operasi pengaruh untuk merugikan Presiden AS Joe Biden, meningkatkan peluang mantan Presiden Donald Trump, yang merusak kepercayaan dalam pemilihan serta memperburuk perpecahan sosial di Amerika.

Laporan itu mendapati upaya Rusia tidak segigih pada tahun 2016 untuk mengakses infrastruktur pemilu AS.

BACA JUGA: Rusia, Bukan China, yang Berusaha Pengaruhi Pemilu AS 2020

Dalam konferensi telepon dengan wartawan, Peskov mengatakan Rusia tidak mencampuri pemilihan umum AS pada 2016 atau 2020 seperti yang disebutkan dalam laporan itu.

"Rusia tidak ada kaitannya dengan kampanye apapun yang menentang setiap kandidat ," kata juru bicara kepresidenan Rusia itu.

Ia memperkirakan pemerintah AS menggunakan laporan itu untuk menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia, yang katanya, "merusak hubungan Rusia-Amerika yang sudah menyakitkan."

Laporan DNI juga menemukan bahwa Iran melakukan "kampanye pengaruh rahasia multi-cabang" mengikis peluang mantan presiden Trump dalam pemilihan tahun lalu, meskipun tanpa upaya meningkatkan peluang saingannya. Laporan itu mengatakan Iran juga berusaha melemahkan kepercayaan publik dalam proses pemilihan AS. Laporan tersebut juga menyimpulkan bahwa, meskipun telah berulang kali diperingatkan oleh beberapa pejabat tinggi AS, Tiongkok pada akhirnya memutuskan untuk membiarkan pemilu berjalan dan "tidak melakukan upaya campur tangan."

Laporan itu selanjutnya mengatakan bahwa Hizbullah Lebanon, Venezuela, dan Kuba semuanya melakukan upaya untuk memengaruhi pemilu AS 2020, tetapi dalam skala yang lebih kecil. [my/ka]