Ketakutan akan Rusia Pengaruhi Respons Asia Tengah terhadap Perang Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin menjabat tangan Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev dalam sebuah pertemuan di St. Petersburg, Rusia, pada 28 Desember 2021. (Foto: kremlin.ru)

Negara-negara Asia Tengah berada dalam keadaan sulit terkait respons yang harus mereka ambil mengenai perang di Ukraina. Negara-negara di kawasan itu tidak senang dengan serangan tidak beralasan Moskow di bekas republik Soviet itu tetapi secara ekonomi mereka bergantung pada Rusia dan takut membuat marah Vladmir Putin.

Tanggapan yang muncul, baik di Uzbekistan maupun di negara-negara lain di kawasan tersebut, berkisar seputar kebijakan netralitas yang dijaga dengan hati-hati seperti yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Uzbekistan saat itu Abdulaziz Kamilov dalam sambutannya kepada anggota Senat negaranya pada bulan lalu.

“Kami mengakui kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas wilayah Ukraina dan menganggap wilayah Luhansk dan Donetsk yang memisahkan diri sebagai wilayah Ukraina,” katanya. “Namun, Tashkent menghargai hubungan politik dan ekonomi yang mendalam dengan Rusia,” tambahnya.

BACA JUGA: China Bisa Bantu Negara-Negara Asia Tengah di Tengah Gangguan Pasokan Gandum

Kamilov menggemakan desakan Presiden Shavkat Mirziyoyev bahwa Uzbekistan tidak akan bergabung dengan blok militer atau mengerahkan pasukannya ke luar negeri. Para pejabat lain dalam pemerintahan Mirziyoyev mengatakan bahwa “pendirian Tashkent dalam perang itu teguh dan netralitas adalah mantranya. Setiap pembicaraan mengenai perang muncul mengingatkan netralitas negara itu.”

Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Uzbekistan Daniel Rosenblum mengatakan Washington memahami mengapa Tashkent tidak secara eksplisit mengecam agresi Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di antara tekanan yang dihadapi oleh Uzbekistan, salah satunya adalah ketergantungan negara tersebut pada pengiriman uang dari warganya yang bekerja di Rusia, yang menyumbang 11,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) Uzbekistan pada 2020. Angka untuk Kirgiztan dan Tajikistan bahkan lebih tinggi, masing-masing sebesar 31 persen dan 27 persen.

“Kami sangat menghormati fakta bahwa karena geografi dan sejarah, Uzbekistan harus menyeimbangkan banyak kepentingan dan bergaul dengan tetangganya, yang juga merupakan mitra dagang dan sumber investasi penting,” Rosenblum mengatakan kepada VOA.

Tapi, ia mengatakan bahwa Amerika Serikat mengharapkan netralitas yang nyata.

BACA JUGA: Belum Ada Konfirmasi Apakah Zelenskyy Diundang ke KTT G20 di Bali

“Kami mengerti Anda tidak akan mengkritik invasi atau memberikan jenis bantuan seperti yang diberikan oleh banyak negara di Eropa kepada Ukraina, bantuan militer dan hal-hal semacam itu. Tapi, Anda juga tidak akan mendukung atau membantu dan bersekongkol dengan pihak lain.”

Para pejabat Uzbekistan mengatakan kepada VOA bahwa mereka mengerti harapan duta besar Amerika itu, tetapi mereka takut pada Moskow.

“Kami jelas takut pada Rusia,” kata seorang pembuat kebijakan, yang berbicara dengan syarat anonim. “Kami tidak setuju dengan mereka, tetapi kita bisa membayangkan apa jadinya negara kita nanti jika kita membuat Kremlin dan Presiden Putin kesal.”

Ketakutan itu telah membuat pemerintah mempertahankan kendali yang ketat pada pelaporan publik tentang perang di Ukraina. Media pemerintah tidak melaporkan liputan independen tetapi hanya mengulangi posisi resmi. Sementara itu media swasta di Kazakhstan, Kirgizstan dan Uzbekistan menghadapi pengawasan ketat dari pemerintah ketika mencoba menganalisis konflik secara objektif atau mempertanyakan perang itu. [lt/em]