Kelompok Taliban Pakistan di Ambang Perpecahan

  • Ayaz Gul

Petugas keamanan berusaha mengumpulkan bukti sesudah terjadi ledakan di Peshawar, 14/3/2014. Kelompok Pakistan Taliban yang berjuang untuk menjatuhkan pemerintahan Pakistan berada di ambang perpecahan.

Perpecahan yang sudah lama diantisipasi dalam Taliban Pakistan tampaknya akhirnya terjadi, ini merupakan pukulan terhadap pimpinan terpadu organisasi militan yang dilarang tersebut.
Dibentuk akhir tahun 2007, aliansi tidak resmi antara puluhan kelompok bersenjata anti-pemerintah, yang disebut Tehreek - e - Taliban Pakistan atau TTP, telah menewaskan ribuan warga Pakistan melalui serangan bom bunuh diri dan serangan teroris lainnya.

Tapi pekan ini, sebuah faksi kunci dalam organisasi militan itu mengumumkan tidak lagi menjadi bagian dari TTP, yang sering disebut sebagai Taliban Pakistan.

Juru bicara kelompok yang memisahkan diri yang dipimpin oleh komandan militan Khalid Said Sajna, menyebut alasan yang disebutnya kebijakan teroris yang "tidak Islami" yang dijalankan pimpinan TTP, dan praktik pengumpulan dana melalui penculikan dan pemerasan.

Masih belum jelas apakah kebijakan pemerintah Pakistan atau intervensi dari dinas intelijen kemungkinan telah mendorong perpecahan. Juga tidak jelas apakah kelompok yang memisahkan diri ini ingin ikut dalam perundingan perdamaian.

Namun mantan brigadir Said Nazir mengatakan itu bisa memberi pihak pemerintah kekuatan yang lebih besar dalam upaya mencapai kesepakatan damai di daerah yang dikuasai militan.

“Perpecahan ini mungkin didorong oleh pihak keamanan atau militer dan posisi TTP telah melemah, tetapi mereka belum mengumumkan gencatan senjata apapun,” kata Nazir.

Selagi pasukan asing pimpinan AS sedang mempersiapkan penarikan diri dari Afghanistan pada akhir tahun ini, para pemimpin Afghanistan dan Pakistan kerepotan dalam mengantisipasi dampak dari kepergian tentara asing.

Di Pakistan, tekanan meningkat terhadap pemerintah untuk memperluas kekuasaan di wilayah perbatasan militan, terutama di Waziristan Utara, yang dikenal sebagai kubu pemberontak Afghanistan.

Pengaruh pemerintah pusat sejak lama lemah di daerah kesukuan, dan militer telah berusaha bertahun-tahun menaklukkan militan di wilayah yang menentang pemerintah.

Mantan jenderal Ehsan ul Haq, bekas kepala badan intelijen militer Pakistan, ISI, mengatakan mengamankan wilayah perbatasan sangat penting baik bagi Kabul dan Islamabad.

Para pejabat Amerika dan Afghanistan telah lama menuduh militer Pakistan, khususnya ISI, membantu pemberontak Taliban di Afghanistan, dengan merujuk pada keengganan Pakistan melakukan serangan besar terhadap pangkalan-pangkalan militan di wilayah Waziristan.