Kecurangan dalam Ujian Sekolah di AS Ancam Integritas Akademia

Dalam foto tahun 2013 ini, seorang murid sekolah dasar di Atlanta sedang belajar berhitung dalam sebuah kelas ekstrakulikuler

Skandal kecurangan di sekolah-sekolah negeri di Atlanta, AS, hampir tuntas. Beberapa mantan pendidik kini menanti hukuman penjara. Menurut para pengamat, kasus yang menggegerkan dunia pendidikan di Amerika Serikat ini menjadi peringatan keras kepada mereka yang berniat melakukan kecurangan terhadap nilai ujian para murid di masa depan.

Di tahun 2008, setelah surat kabar Atlanta Journal-Constitution pertama-tama mengungkap bukti kecurangan yang meluas di sekolah-sekolah negeri Atlanta, gubernur saat itu, Sonny Perdue membentuk sebuah tim yang dipimpin oleh jaksa agung negara bagian Georgia, Michael Bowers, untuk menyelidiki kasus ini.

Lebih dari 50 penyelidik dan pengacara berpartisipasi dalam penyelidikan oleh negera bagian, yang berujung pada berbagai tuntutan kriminal terhadap 35 guru, lebih dari 20 di antaranya kemudian mengaku bersalah di pengadilan.

Penyelidikan yang berlangsung selama 11 bulan mengungkap bahwa tak kurang dari 44 sekolah negeri di Atlanta terlibat dalam tindakan kecurangan yagn serius mulai dari 2005 sampai 2009, menurut Bowers.

Setidaknya 180 staf sekolah terlibat, termasuk 38 kepala sekolah. Skandal ini, di mana para guru mengubah jawaban para muridnya dalam ujian negara bagian, dipandang sebagai insiden kecurangan terbesar dalam sejarah sistem pendidikan negeri di Amerika Serikat dalam generasi ini.

"Mereka memerintahkan penghapusan dalam tes-tes yang diambil anak murid, memastikan sebagian jawaban dihapus, ataupun memerintahkan anak-anak untuk menghapus jawaban mereka dan memberikan jawaban yang benar kepada anak murid," kata Bowers.

Dalam kasus-kasus lain, "mereka menghapus (jawaban) setelah anak murid mengisi tes sehingga anak murid mendapat nilai yang baik dan mereka sendiri - para guru - akan terlihat sebagai guru yang baik," tambahnya.

Mantan pengawas sekolah negeri Atlanta Bevery Hall yang namanya kini tercoreng - meninggal dunia bulan lalu - disebut mengancam para guru dan staf untuk secara konsisten meningkatkan nilai ujian anak-anak jika mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka.

Ini berujung pada kecurangan oleh sebagian guru yang takut dipecat. Banyak di antaranya juga menerima bonus dan naik pangkat.

Kasus ini tidak hanya berdampak pada pendidikan anak-anak, tapi juga pada integritas para pendidik.

Proses pengadilan kriminal

Para jaksa penuntut mengajukan kasus ini pada 2013, setelah sebuah dewan juri di Fulton County mendakwa 35 guru. Ini langkah yang tidak lazim.

"Kelakukan buruk dalam profesi seperti dalam kasus kecurangan ini biasanya diatasi dengan langkah-langkah disipliner. Ini sangat, sangat tidak lazim bagi guru-guru untuk didakwa dalam pengadilan kriminal seperti halnya kasus ini," ujar profesor emeritus di University of Georgia Ronald Carlson.

Bowers mengatakan keputusannya untuk mendakwa para guru yang terlibat adalah langkah yang tepat, karena para guru mencabut hak-hak banyak siswa yang paling rentan dari hak mereka atas pendidikan yang layak.

"Menurut saya ini sangat pantas bagi negara bagian untuk mengambil tindakan yang tegas untuk mengkoreksi mereka dan memberi hukuman yang keras bagi mereka yang bertanggung jawab," katanya.

Pada tahun 2012, Departemen Pendidikan Georgia merilis daftar 78 sekolah negeri terparah di negara bagian. Hampir separuh di antaranya berasal dari daerah Atlanta dan sekitarnya, dengan sebagian besar siswa berasal dari keluarga-keluarga berpendapatan rendah, dengan nilai dan tingkat kelulusan yang rendah.

Pembelaan terdakwa

Para juri mulai mempertimbangkan keputusan mereka bagi kasus ini di awal bulan setelah 21 terdakwa menyatakan diri mereka bersalah. Sebagian lainnya tetap megaku tidak bersalah dan berharap keputusan dewan juri akan membebaskan mereka.

Pengacara Atlanta Bob Rubin mewakili salah satu terdakwa, mantan kepala sekolah dasar Dana Evans. Ia menepis segala tuduhan terhadap kliennya.

"Posisi kami adalah bahwa mereka yang mengatakan Dana Evans mengetahui kecurangan ini dan tidak melakukan apapun, memiliki agenda tertentu karena ia (Evans) telah memberi sanksi terhadap mereka, para guru, yang tidak melakukan pekerjaan mereka dengan baik," kata Rubin.

Dewan juri yang terdiri dari 12 orang terdiri dari warga kulit hitam Amerika keturunan Afrika, lima orang kulit putih dan seorang Hispanik.

Ia mengatakan rasio ini tidak masuk akal karena orang-orang yang dipilih dari 600 kandidat mengatakan warga kulit putih terlalu banyak diwakili di daerah di mana warga kulit hitam merupakan mayoritas.

"Dalam konstitusi (AS), susunan juri harus mewakili bagian-bagian masyarakat secara adil dengan memandang persentasi kulit putih, kulit hitam, Hispanik dan ras-ras lainnya, juga gender dan hal-hal seperti itu. Dalam kasus ini, ada masalah dengan komposisi dewan juri," kata Rubin.

Hakim tidak puas

Hakim Pengadilan Tinggi Fulton County Jerry Baxter mengimbau kepada para guru dan staf yang menjadi terdakwa untuk mencapai kesepakatan dengan para penuntut.

Tak lama sebelum putusan turun, dua orang lainnya menerima kesepakatan dengan mengaku bersalah. Tapi yang lainnya menolak dan kemudian dinyatakan bersalah oleh juri.

Hakim Baxter mendenda dan menjatuhkan hukuman penjara kepada delapan pendidik pekan lalu, memberikan tiga staf administrasi sekolah masing-masing hukuman tujuh tahun penjara.

Terdakwa lainnya mendapat hukuman ribuan jam layanan masyarakat.

Sebagian mengeluh bahwa hukuman terlalu berat, dan pekan ini, Hakim Baxter tampak siap untuk mempertimbangkan kembali hukuman tersebut.

Namun ia mengecam para guru yang menolak untuk bertanggung jawab

"Ini bukanlah tindakan kriminal tanpa korban," kata Baxter.

Namun, ia setuju memberikan para terdakwa kesempatan karena ini merupakan pelanggaran pertama mereka, yang berarti semua catatan kriminal mereka akan dihapus setelah mereka selesai menjalani hukuman.

Jaksa penuntut Fulton County Paul Howard menekankan bukanlah niatan mereka untuk mengirim para guru ke balik jeruji.

Ia mengatakan para guru diberikan kesempatan untuk mengaku bersalah, meminta maaf dan tidak naik banding, tapi mereka menolak tawaran tersebut.

Reaksi pemerintah federal

Perkembangan di Atlanta tersebut mendapat perhatian di Washington.

"Vonis terhadap skandal kecurangan ujian di Atlanta menandai babak menyedihkan dalam sejarah pendidikan negeri di Atlanta. Fokus pendidikan seharusnya adalah apa yang terbaik bagi para murid," ujar juru bicara Departemen Pendidikan AS Dorie Nolt dalam emailnya kepada VOA.

"Para pemimpin negara bagian dan kota, para orangtua dan anggota komunitas, pantasmendapat pujian atas upaya mereka mengembalikan integritas sekolah-sekolah di Atlanta dan untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat. Kami terutama memuji ribuan guru Atlanta, staf dan para pegawai yang terus bekerja keras dan melayani para murid sementara masyarakat dalam masa penyembuhan," katanya.

"Pemberian hukuman penjara kepada para guru, staf dan pejabat sekolah merupakan pesan kepada semua orang di negara ini dan mungkin juga di luar negeri bahwa kecurangan seperti ini untuk mendapat kenaikan pangkat, atau untuk mempertahankan pekerjaan mereka atau memperoleh bonus tidak akan ditolerir," kata Carlson.