Jumlah Pengungsi Anak-Anak di Eropa Meningkat

Sekjen PBB Ban Ki-moon menyambut seorang pengungsi anak dalam kunjungannya ke kamp pengungsi Kara Tepe yang dikelola pemerintah kota. Lesbos, Yunani.

Lebih dari 7.000 anak telah melakukan perjalanan dari Afrika Utara ke Italia sebagaimana dilaporkan oleh UNICEF. Jumlah tersebut merupakan peningkatan dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun 2015.

UNICEF mengatakan anak-anak tanpa orang tua yang melarikan diri dari tempat-tempat konflik kini menghadapi pemerkosaan, penahanan, penganiayaan, kerja paksa dan bahkan kematian.

Laporan UNICEF “Bahaya di Setiap Langkah” menunjukkan lebih dari tujuh ribu anak telah melakukan perjalanan dari Afrika Utara ke Italia – yang mengambil rute Laut Tengah – antara bulan Januari dan Juni 2016, lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun 2015.

Laporan itu juga menyorot rute Laut Tengah sebagai salah satu dari banyak resiko yang mereka tempuh.

“Jika kami lari, mereka akan menembak kami dan kami mati. Jika kami berhenti bekerja, mereka memukuli kami”, ujar Aimamo – seorang anak berusia 16 tahun yang berbicara dengan pejabat-pejabat UNICEF tentang pertanian di Libya, dimana ia dan adik kembarnya harus bekerja supaya bisa membayar para penyelundup. Kakak beradik itu kemudian melakukan perjalanan dari Gambia melalui Senegal, Mali, Burkina Faso dan Niger.

Pekerja sosial Italia mengatakan anak laki-laki dan perempuan menderita penganiayaan seksual.

“Sejumlah anak perempuan hamil ketika mereka tiba di Italia karena diperkosa”, tulis laporan itu.

Operasi para penyelundup yang dilakukan secara illegal membuat laporan itu tidak bisa menyediakan data pasti yang menunjukkan berapa banyak pengungsi – orang dewasa dan anak-anak – yang meninggal, terjebak dalam kerja paksa dan prostitusi, atau berada dalam tahanan.

Menurut Organisasi Migrasi Internasional IOM dari sekitar 7.567 anak yang menyebrang Laut Tengah tahun ini, 92% diantaranya tidak memiliki orang tua. Hampir satu dari 10 anak tinggal di negara-negara yang terkena dampak konflik bersenjata, dan lebih dari 400 juta hidup dalam kemiskinan yang sangat luar biasa.

Antara tanggal 1 Januari hingga 5 Juni ini, tercatat 2.809 orang tewas di Laut Tengah.

Sementara tahun 2015 lalu jumlah korban tewas mencapai 3.770 dan banyak diantara mereka adalah anak-anak. [em]