Jepang Melirik Robot untuk Perawatan Lansia Masa Depan

Seorang penghuni panti menyentuh robot 'Pepper' dalam kegiatan olahraga rutin di panti wreda Shin-tomi di Tokyo, 2 Februari 2018.

Paro, robot anjing laut berbulu lembut, menggonggong pelan ketika seorang perempuan lansia mengelusnya. Pepper, sebuah robot manusia, melambaikan tangan ketika memimpin sekelompok lansia berolahraga. Sosok Tree yang berpostur tegak, membantu seorang pria difabel menuruni tangga, seraya mengeluarkan instruksi dalam suara perempuan, "kanan, kiri, bagus sekali."

Robot-robot membantu tugas sehari-hari di panti wreda Shin-tomi di Tokyo. Panti wreda ini memiliki 20 model robot untuk merawat para penghuni panti. Pemerintah Jepang berharap penggunaan robot di panti wreda ini akan menjadi model pemanfaatan keahlian robotika negara itu untuk menghadapi populasi lansia yang makin bertambah dan jumlah tenaga kerja yang berkurang.

Menggunakan robot untuk merawat lansia, pekerjaan yang dianggap membutuhkan sentuhan manusia, mungkin ide yang tak lazim di Barat. Tapi banyak orang Jepang memandang sebagai hal positif, sebagian besar karena robot-robot digambarkan di media popular sebagai robot yang ramah dan suka menolong.

Para lansia mengikut gerakan robot 'Pepper' dalam kegiatan olahraga sore di panti wreda Shin-tomi di Tokyo, Jepang, 2 Februari 2018

"Robot-robot ini bagus sekali," kata Kazuko Yamada, 84 tahun, setelah berolahraga dengan dipandu Pepper, robot buatan SoftBank Robotics Corp. Pepper bisa bertukar sapa dengan menggunakan naskah. "Makin banyak orang yang tinggal sebatang kara saat ini, dan robot bisa jadi teman bicara. Robot membuat hidup lebih menyenangkan."

Banyak tantangan yang mungkin bisa menghambat penggunaan secara luas robot perawat lansia, antara lain biaya tinggi, masalah keamanan, dan keraguan seberapa jauh robot-robot ini bisa bermanfaat dan ramah pengguna.

Pemerintah Jepang telah mendanai pengembangan robot-robot perawat lansia untuk menutup kekurangan pekerja berkeahlian khusus sebanyak 380 ribu pada 2025.

Baca: Lansia Jepang Pilih Meninggal di Rumah, Sendiri

Meski pemerintah Jepang sudah melakukan berbagai cara untuk lapangan pekerjaan bagi perawat lansia asing, masih ada hambatan. Misalnya, ujian kemampuan berbahasa Jepang. Hingga akhir 2017, hanya ada 18 warga negara asing yang memiliki visa pramurukti, kategori visa yang dibuat khusus pada 2016.

Namun pihak berwenang dan beberapa perusahaan juga mengincar peluang yang lebih besar: potensi menguntungkan ekspor robot perawat lansia ke negara-negara seperti Jerman, China dan Italia, yang menghadapi masalah demografi yang sama saat ini atau dalam waktu dekat.

Seorang penghuni panti menyentuh robot anjing laut 'PARO' di panti wreda Shin-tomi di Tokyo, Jepang, 2 Februari 2018.

"Ini adalah kesempatan bagi kami," kata Atsushi Yasuda, direktur kantor kebijakan robotika di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang atau METI. "Negara lain akan mengikut tren yang sama."

Lebih dari 100 kelompok dari negara-negara seperti China, Korea Selatan dan Belanda, telah mengunjungi Shin-tomi setahun belakangan.

Beberapa produk mulai dipasarkan untuk ekspor. Panasonic Corp mulai mengekspor tempat tidur robotika yang bisa berubah menjadi kursi roda, ke Taiwan. Paro digunakan sebagai "hewan terapi" di sekitar 400 panti wreda di Denmark.

Pangsa Pasar Masih Kecil

Pasar dunia untuk robot perawat lansia dan difabel, yang didominasi oleh produsen Jepang, masih sangat kecil, hanya $19,2 juta pada 2016, menurut Federasi Internasional Robotika.

Namun menurut perkiraan METI, industri domestik saja akan tumbuh menjadi 400 miliar yen ($3,8 miliar) pada 2035, ketika sepertiga dari populasi Jepang berusia 65 tahun atau lebih tua.

"Ini pasar potensial yang sangat besar," kata George Leeson, direktur dari Oxford Institute of Population Ageing. "Semua orang sadar dengan populasi mereka yang menua. Jelas robotika adalah bagian dari cara untuk memenuhi kebutuhan itu."

Solusi Mahal

Lucu, berbulu dan responsif, Paro bereaksi pada sentuhan, ucapan dan cahaya dengan menggerakkan kepalanya, mengedipkan mata dan memainkan rekaman suara anjing laut Kanada.

Butuh waktu 10 tahun untuk mengembangkan Paro dan pemerintah membantu dana $20 juta, kata penciptanya, Takanori Shibata, kepala ilmuwan riset di National Institute of Advanced Industrial Science and Technology. Sebanyak 5.000 unit Paro digunakan di seluruh dunia, termasuk 3.000 di Jepang.

Seorang pramurukti (kanan) mengenakan alat rehabilitasi 'Tree', membantu seorang penghuni panti berlatih jalan di panti wreda Shin-tomi di Tokyo, 5 Februari 2018.

Paro, seperti robot lainnya, sangat mahal, sekitar 400 ribu yen ($3.800) di Jepang dan 5.000 euro di Eropa. Tempat tidur Resyone buatan Panasonic dijual seharga 900 ribu yen ($8.600) dan HAL exoskeleton buatan Cyberdyne disewa seharga 100 ribu yen ($950) per bulan.

Pejabat pemerintah menekankan tetap saja robot-robot tidak bisa menggantikan para pramurukti atau perawat lansia.

"Mereka bisa membantu dengan kekuatan, mobilitas dan monitoring. Mereka tidak bisa menggantikan manusia. Tapi mereka bisa menggantikan waktu dan pekerjaan," kata Yasuda dari METI. "Bila para pekerja punya lebih banyak waktu, mereka bisa mengerjakan tugas lain." [ft/dw]