Jepang, China Berebut Pengaruh di Afrika

PM Ethiopia Hailemariam Desalegn (kanan) menerima kunjungan PM Jepang Shinzo Abe di Addis Ababa, Rabu (15/1).

Seiring kunjungan PM Jepang Shinzo Abe ke Afrika Rabu (15/1), pejabat China menuduh Jepang punya ambisi imperialis di sana, sementara Jepang menuduh China ‘membeli’ negara-negara Afrika.
Perdana Menteri Jepang berusaha memperluas pengaruh negaranya di Afrika, pekan ini dengan mengunjungi tiga negara Afrika dan membahas perjanjian bernilai multi-miliar dolar dalam bidang gas dan batubara. Tapi kunjungan itu telah membukan kembali luka mendalam dengan dengan saingan lamanya, China.

Pemimpin Jepang menekankan pentingnya kunjungannya ke tiga negara Afrika – lawatan pertama ke benua itu dalam delapan tahun – dengan menjanjikan hari Selasa untuk menggandakan pinjaman Jepang bagi negara-negara Afrika menjadi $ 2 miliar dolar.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan kepada para pejabat yang berkumpul dalam pertemuan Uni Afrika di Addis Ababa hari Rabu (15/1) bahwa negaranya optimis tentang Afrika.

Abe mengatakan bahwa Afrika telah berubah banyak, katanya melalui seorang penerjemah, dan menambahkan "sejumlah besar orang Jepang yakin Afrika merupakan harapan bagi Jepang."

Kunjungan Abe didorong dengan pertimbangan ekonomi. Jepang merupakan importir gas alam cair terbesar di dunia, dan telah mengalami kesulitan sejak terjadinya bencana nuklir Fukushima tahun 2011 dengan berkurangnya kemampuan tenaga nuklir negara itu. Jadi, tidak mengherankan jika Abe kerkunjung ke Mozambik, negara yang berkembang pesat dalam hal produksi gas alam di Afrika, di mana ia membahas proyek-proyek bernilai miliaran dolar dengan para pejabat di sana.

Tapi persaingan negara-negara kuat Asia dengan segera muncul di ibukota Ethiopia ketika China menghadang upaya Jepang di benua tersebut. Kedua negara memiliki sejarah pahit yang panjang, dan kini terlibat sengketa pulau-pulau di Laut China Timur.

Di Addis Ababa hari Rabu, Duta Besar China untuk Uni Afrika, Xie Xiaoyan, mensasarkan upaya Jepang di Afrika, dalam pidatonya, dan menunjukan kepada wartawan foto-foto mengerikan dan kekejaman Jepang masa perang ketika menyerang Nanjing, China, selama enam minggu tahun 1937.

"Kalian tahu, pemimpin Jepang itu berusaha menampilkan dua wajah: pertama, negara cinta damai, pemimpin cinta damai yang berbicara tentang kerjasama, ekonomi dan perdamaian dan masalah keamanan, serta berusaha menjadi teman benua Afrika. Wajah lain dari politisi ini adalah, di Asia, mereka melakukan semua yang saya sebutkan tadi dan membuat masalah dengan negara-negara lainnya," tuduh Xie.

Jepang juga mengolok-olok upaya China di Afrika – dengan menyinggung pelaksanaan HAM yang buruk di China dan reputasinya yang tidak memperlakukan pekerja-pekerja Afrika dengan baik dalam berbagai proyek mereka.

Jepang dan China tidak diragukan lagi akan terus berselisih akibat masa lalu mereka yang rumit. Tapi di Afrika, perselisihan itu akan muncul dengan berbagai cara yang menarik dan kompleks.
(Anita Powell/VOA).