ISIS Klaim Remaja Australia Lakukan Serangan Bunuh Diri di Irak

Sebuah foto menunjukkan Jake Bilardi, remaja Australia berusia 18 tahun, duduk di belakang kemudi mobil van putih dalam video propaganda ISIS (foto: dok).

Australia sedang berusaha mengkonfirmasi klaim militan ISIS bahwa seorang warga negaranya yang berusia 18 tahun melakukan serangan bunuh diri untuk mereka.

Dalam propaganda yang diterbitkan online, kelompok ISIS mengklaim menggunakan orang-orang dari Australia, Belgia, Suriah dan Uzbekistan dalam serangkaian serangan bunuh diri yang terkoordinasi di Ramadi.

Sebuah foto menunjukkan orang yang mirip Jake Bilardi, remaja Australia berusia 18 tahun, duduk di belakang kemudi sebuah mobil van putih. Bilardi meninggalkan rumahnya di kota Melbourne bulan Agustus lalu dan berangkat ke Timur Tengah.

Para pejabat mengatakan Bilardi sempat menarik perhatian pihak keamanan dan telah dicabut paspornya bulan Oktober. Tetapi saat itu ia sudah terlanjur berada di zona konflik karena sudah direkrut oleh militan ISIS.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengatakan laporan tentang kematian remaja itu di Irak menunjukkan propaganda ISIS bisa berpengaruh sangat besar terhadap orang muda dan rentan di negara-negara Barat.

“Berbagai laporan ini masih belum terkonfirmasi. Ini adalah situasi yang jelas mengerikan dan menunjukkan kuatnya rayuan organisasi militan ini bagi orang-orang muda yang mudah terpengaruh. Sangat penting bahwa kita melakukan segala hal guna melindungi orang-orang muda dari rayuan ideologi yang ekstrem dan asing ini,” kata Abbott.

Sejumlah laporan di Australia mengindikasikan bahwa remaja asal Melbourne itu meninggalkan alat-alat peledak di rumah keluarganya. Sebuah blog yang tampaknya ditulis Bilardi berisi ancaman untuk melakukan aksi teror di Australia. Blog itu sudah dicabut dari Internet.

Pihak berwenang di Canberra menolak mengkonfirmasi laporan-laporan itu. Tahun lalu, pemerintah mengesahkan UU yang mempermudah pihak keamanan untuk mencabut paspor orang-orang yang diduga terlibat aksi ekstremis. UU itu juga melarang warga Australia mengunjungi sejumlah lokasi konflik di luar negeri.

Minggu lalu, dua remaja laki-laki bersaudara dicegat di bandara Sydney karena diduga hendak bergabung dengan ISIS. Mereka lalu dipulangkan ke orangtua mereka.

Australia memperkirakan sekitar 90 warganya ikut bertempur dengan kelompok-kelompok militan di Timur Tengah.