Inggris dan Uni Eropa Masih Punya Perbedaan Besar Terkait Brexit

Papan iklan berisi informasi dari pemerintah Inggris mengenai Brexit di London, Inggris, 11 September 2019. (Foto: Reuters)

Pada Senin (7/10), Inggris dan Uni Eropa tampaknya masih berbeda jauh sehubungan kesepakatan Brexit. Pemerintah Belanda mendesak pemerintah Inggris untuk menawarkan “realisme dan kejelasan” yang lebih besar, sedangkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mendesak blok agar memperlunak posisinya.

Minggu lalu, pemerintah Inggris mengirim kepada Uni Eropa apa yang disebutnya adalah “kompromi yang wajar.” Proposal itu memungkinkan Inggris meninggalkan blok itu dengan mengantongi sebuah persetujuan pada akhir bulan ini.

Tetapi Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok, usai pertemuan Senin (7/10) dengan Sekretaris Brexit dari Inggris, Stephen Barclay, mengatakan bahwa “pertanyaan-pertanyaan penting belum terjawab.”

Pemerintah Inggris mengatakan, akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober dengan atau tanpa kesepakatan. Banyak pihak baik di Uni Eropa maupun di Inggris, skeptis dengan klaim tersebut karena Parlemen Inggris sudah meloloskan sebuah undang-undang yang mengharuskan pemerintah meminta Uni Eropa menunda Brexit kalau tidak tercapai persetujuan pada 19 Oktober.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, dia akan mematuhi hukum, tetapi tidak akan minta penundaan, sehingga tidak jelas bagaimana kedua pernyataan itu bisa dipertemukan. [jm/pp]