Warga Washington Gerak Jalan untuk Korban Bencana Jepang

  • Susy Tekunan

Para peserta 'Stand with Japan' menyeberangi jembatan dekat Tidal Basin.

Sekitar 100 warga Amerika di Washington menunjukkan solidaritas bagi korban bencana di Jepang lewat acara festival Cherry Blossom.

Noritaka Takezawa pindah dari Tokyo lima tahun lalu. Sekarang ia bekerja sebagai pialang saham di ibukota AS, Washington. Keluarga Nori tinggal di Tokyo. Walaupun tidak ada sanak saudara maupun temannya yang terkena dampak langsung bencana tsunami dan gempa, Nori terguncang saat mendengar berita tentang bencana yang menimpa negaranya.

“Saya sangat frustrasi dan ingin melakukan sesuatu tapi tidak bisa apa-apa. Setidaknya di sini kami bisa melakukan sesuatu yang kecil untuk warga Jepang. Dalam tradisi Jepang ada semangat ‘Wa’ yang artinya peran kecil tiap orang jika disatukan akan jadi besar dan berarti. Itulah mengapa saya ada disini,” papar Nori.

Noritaka Takezawa, warga Washington DC asal Jepang

Nori berada di acara “Stand with Japan”, bagian dari rangkaian Festival Cherry Blossom yang diadakan khusus untuk menunjukkan solidaritas bagi korban bencana.

Festival Cherry Blossom adalah acara perayaan tahunan yang menandakan mulainya musim semi di Washington. Acara yang dihadiri sekitar sejuta orang ini memperingati persahabatan Jepang Amerika sambil menikmati indahnya bunga-bunga sakura (cherry blossom) yang mengelilingi kolam Tidal Basin. Sekitar 99 tahun lalu pemerintah kota Tokyo menghadiahkan 3.000 pohon sakura untuk Washington dan setiap kali mekarnya bunga-bunga ini mekar, warga Washington dan para turis diingatkan akan persahabatan kedua negara dan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan kebudayaan selama dua minggu.

Peserta Stand with Japan memberikan sumbangan yang akan disalurkan lewat Palang Merah Amerika.

Tahun ini, festival yang dimulai dua minggu setelah terjadinya bencana tidak hanya berpusat pada perayaan namun ditambah dengan kegiatan solidaritas. Jubir Festival Cherry Blossom, Danielle Piacente berkata, “Kami masih merayakan datangnya musim semi dan hadiah pohon Sakura dengan semangat untuk melangkah depan. Festival tahun ini memang akan bernada sedikit berbeda dari biasanya, kami mengheningkan cipta dalam upacara pembukaan dan kegiatan lainnya. Walau begitu setiap acara kami masih akan ada semangat perayaan.”

Stand with Japan di pelataran Monumen Nasional dihadiri lebih dari 100 orang di tengah cuaca dingin dan berangin sekitar 10 derajat Celcius. Kegiatan ini dihadiri oleh warga Amerika dan warga Jepang yang tinggal di Washington seperti Noritaka.

Ichiro Fujisaki, Duta Besar Jepang untuk AS, berterima kasih atas dukungan internasional bagi Jepang.

Acara ini diawali dengan mengheningkan cipta untuk mengenang korban tsunami dan gempa yang berdampak pada seluruh negara. Duta Besar Jepang untuk AS, Ichiro Fujisaki, hadir menyampaikan kata sambutan, “Ini pertarungan sulit namun kami terhibur dengan usaha warga dunia membantu kami, terutama Amerika sebagai salah satu negara pertama yang mengirimkan regu bantuan ke daerah bencana.”

Sementara pemerintah Amerika mengirimkan bantuan dengan sarana militer, warga Amerika melakukan berbagai aksi solidaritas lewat penggalangan dana, membuat burung-burung kertas sebagai ungkapan doa bagi para korban dan ikut kegiatan seperti gerak jalan ini. Michelle Aldridge, seorang pemudi yang sempat bersekolah di Jepang, merasa dekat dengan warga Jepang dan ingin membantu. “Saya harap pesan ini bisa sampai ke korban dan keluarga yang sedang menderita di Jepang. Saya rasa dukungan ini sangat penting sekarang walau ini adalah hal kecil namun inilah yang bisa kami lakukan,” ujarnya.

Bunga Sakura di kolam Tidal Basin, Washington DC

Setelah kata sambutan dari beberapa perwakilan, peserta berbondong-bondong berjalan dari lokasi menuju kolam Tidal Basin di tengah mekarnya bunga sakura. Cuaca semakin dingin dan matahari terbenam seiring kaki melangkah.

Kegelapan menyelimuti Washington dan pemandangan bunga-bunga merah muda yang lembut terhalau tabir hitam, seakan menggambarkan beratnya beban rekonstruksi pasca bencana yang dipikul negara asal bunga sakura ini. Walau dalam beberapa hari kelopak sakura akan berguguran tersapu angin dan hujan, mereka akan kembali mekar tahun depan. Harapan ini juga tercermin ke Jepang yang akan bangkit dari kesulitan yang mencengkram, lebih tegar dan indah dari sebelumnya.