Biden Ungguli Trump dengan Selisih 2-1 di Kalangan Pemilih Hispanik

Warga Hispanik atau Latino di Amerika adalah kelompok pemilih minoritas terbesar dalam pemilu 2020 (foto: dok).

Warga Hispanik di Amerika diperkirakan menjadi kelompok pemilih minoritas terbesar dalam pemilu 2020, kata Pusat Riset Pew. Hanya sehari sebelum pemungutan suara, jajak pendapat dari televisi NBC dan Wall Street Journal mendapati mantan Wakil Presiden Joe Biden unggul atas Presiden Donald Trump dengan selisih 2-1 di antara pemilih Hispanik.

Perahu-perahu seperti yang dipakai orang biasa. Namun dengan menambahkan bendera-bendera, maka menjadi armada "Trumptilla," parade kapal mingguan di Florida dengan perahu dan bendera bertuliskan Trump dan Pence 2020.

Ini pelabuhan untuk kemenangan Presiden Trump.

Enam juta warga Hispanik tinggal di AS – sekitar separuhnya berhak untuk memberikan suara. Dalam pemilu ini bisa jadi mereka merupakan kelompok minoritas terbanyak yang mengambil suara, melampaui warga kulit hitam.

Warga Hispanik condong ke Demokrat sejak 1980-an, tetapi mereka tidak memberikan suara sebagai satu blok.

Warga asal Kuba adalah kelompok Hispanik terbesar di Florida dan mereka biasanya memilih Partai Republik, seperti Jorge Rodriguez.

Warga Hispanik pendukung Presiden AS Donald Trump (foto: dok).

“Saya akan memilih Trump karena kalau sosialis memasuki negara saya, mereka hanya banyak berjanji. Ketika kami menyadari apa yang sebenarnya terjadi, mereka melepas kedoknya, semuanya sudah terlambat dan mereka sudah merebut kekuasaan. Hal yang sama saya lihat di negara ini,” ujar Rodriguez.

Warga manula Kuba mengaitkan cap (label) "sosialis" yang Presiden Trump berikan kepada calon presiden dari Demokrat Joe Biden. Ini menempatkan kampanye Biden dalam posisi defensif untuk memperbaikinya.

Pili Tobar, salah seorang juru kampanye Joe Biden mengatakan, “Lihat, Joe Biden bukan seorang socialis. Ia bukan komunis. Sebenarnya pemimpin yang otoriter adalah Presiden Trump. Itulah jenis pemimpin yang kami tinggalkan ketika kami meninggalkan Kuba.”

Warga Hispanik di Florida dengan semangat menentang Donald Trump.

Juga seorang warga asal Spanyol Alberto yang mendaftar lebih awal untuk memperoleh surat kewarganegaraan supaya ia bisa memberikan suara dalam pemilu ini. “Saya merasa ingin mengalahkan presiden sekarang ini. Saya cukup terbuka tentang itu.”

Tetapi di dalam sebuah gereja Pentekosta di Tennessee, Anke Sandoval berada di sana tiap Selasa malam untuk berdoa bagi presiden. Ini adalah pemilu pertama baginya sejak ia tiba dari Honduras.

“Kami yakin apa yang Tuhan lakukan melalui Presiden Trump. Tuhan menunjuk para pemimpin dan memilih para pemimpin, untuk dapat mengatur negara," kata Sandoval.

Penduduk dari negara-negara Latin yang lebih muda di Texas telah tumbuh di perbatasan Meksiko. Tetapi untuk pemilih seperti Alyssa Dale mengatakan, “Orang-orang seusia saya bahkan memberi tahu saya bahwa suara saya tidak penting. Saya menginginkan orang ini, tetapi saya tidak akan memberikan suara."

Masalah seperti itu yakni menginginkan calon tertentu tetapi tidak bersedia mengikuti pemungutan suara, adalah masalah besar bagi Joe Biden, kata Profesor Jim Henson dari Universitas Texas.

Jadi, meskipun warga Hispanik tahun 2020 telah menjadi minoritas terbesar, membuat mereka benar-benar ikut memilih bisa mempengaruhi negara-negara bagian dengan kekuatan yang berimbang. [ps/lt]