BI akan Terus Kawal Pasar Stabilkan Rupiah

  • Iris Gera

Nilai rupiah mengalami penurunan cukup tajam terhadap dolar dalam 2 minggu terakhir, dan sempat menyentuh Rp 9.500 per dolar AS.

Dalam dua minggu ini nilai tukar rupiah terus melemah meski BI dan pemerintah optimistis kondisi tersebut bersifat sementara.

Bank Indonesia akan terus mengawal pasar agar nilai tukar rupiah stabil. Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas BI, Diffy Johansyah setelah nilai tukar rupiah terus melemah. Nilai rupiah sempat menyentuh di kisaran Rp 9.500 per dolar Amerika, atau turun signifikan dari sekitar Rp 8.400 per dolar Amerika.

Melemahnya nilai tukar rupiah menurut BI dan pemerintah lebih disebabkan oleh sikap panik pasar global dan regional akibat khawatir akan terjadi resesi yang dipicu oleh belum membaiknya perekonomian Amerika dan Eropa.

Kepala Biro Humas BI, Diffy Johansyah kepada pers di Jakarta, Jumat menegaskan BI optimistis fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menahan dampak negatif dari kondisi pasar global dan regional.

“Bank Indonesia akan selalu ada di pasar dan kita selalu siap kalau misalnya nanti pasar bergejolak dan perkembangannya kita pantaus etiap hari dan kita snagat yakin bahwa dengan kemmapuan cadangan devisa kita, kita akan bisa selalu menstabilisasi pasar hanya mungkin dinamikanya kita jangan lihat per hari ya, kita punya patokan tersendiri dalam melihat volatilitas rupiah, tapi yang penting bahwa kita tidak akan menginginkan rupiah itu sangat tidak stabil," kata Diffy Johansyah.

Sementara, pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Berly Martawardaya sependapat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG bersifat sementara. Ia mengingatkan, justru yang harus menjadi perhatian pemerintah dan investor adalah sektor riil yang kemungkinan terkena dampak negatif untuk waktu jangka panjang. Untuk itu ia menyarankan agar pemerintah ikut melibatkan negara-negara yang selama ini sudah bekerjasama di bidang perekonomian dengan Indonesia.

Ditegaskannya jika negara-negara tersebut mengurangi pesanan impor mereka maka akan berpengaruh buruk terhadap kinerja ekspor Indonesia. Disamping itu, tambah Berly, untuk memulihkan lemahnya ekspor akan butuh waktu yang lama.

“Jadi yang kita lihat lebih pada secondary impact-nya dan itu biasanya tidak jangka pendek walaupun di segi market, di pasar-pasar uang, di pasar saham lebih cepat tapi ke ekonomi (sektor) riil lebih panjang,” ujar Berly Martawardaya.

Berly menambahkan, meski pelemahan nilai tukar rupiah dan IHSG dinilai akibat kepanikan investor termasuk di Indonesia terhadap kemungkinan terjadi resesi global namun menurutnya pemerintah dan BI jangan hanya meminta investor untuk tidak panik.

Pemerintah dan BI menurutnya harus bekerjasama membangun iklim investasi yang baik agar investor merasa aman dan nyaman dalam berinvestasi baik dalam bentuk perdagangan saham maupun sektor riil.

“Kan prinsipnya bahwa orang sebagai pemilik modal dia bisa memilih antara menaruh uangnya di pasar saham atau di obligasi, atau kalau dia taro di sektor riil, dia akan taro di tempat yang aman, jadi saat ini kita perlu mencermati switching-nya kemana,” kata Berly Martawardaya lagi.

Menurut BI, ada tiga langkah yang dilakukan akhir-akhir ini untuk menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil, yaitu: pertama, intervensi dengan mengeluarkan sejumlah dana yang diambil dari cadangan devisa; kedua, memperkuat manajemen krisis untuk stabilitas nilai tukar rupiah dan perbankan, serta langkah ketiga adalah menjaga tingkat suku bunga sebagai upaya deteksi dini dampak penurunan perekonomian global terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, maka BI dan pemerintah berharap nilai tukar rupiah dan IHSG kembali menguat minggu depan dan tidak terjadi lagi kepanikan pasar global dan regional.