Besarnya Jumlah Buruh Anak di India Memprihatinkan

  • Kurt Achin

Sabina, 13 tahun, terpaksa bekerja membuat zari untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya.

Menurut berbagai data, jumlah anak yang bekerja sebagai buruh di seluruh India berkisar antara 20 sampai 50 juta.

Di desa Rashkali, sekitar 50 kilometer dari Kalkuta, India timur, banyak anak kecil menghabiskan masa hidup awal mereka dengan bekerja. Mereka membuat zari, kain tekstil yang disulam indah, yang terutama ditujukan untuk ekspor.

Tangan-tangan kecil tanpa hentinya menjahit hiasan manik-manik pada kain itu. Hampir separuh angkatan kerja di kota itu terdiri dari anak anak antara usia 8 sampai 15 tahun. Sebagian dari mereka mulai belajar menjahit ketika berusia 4 atau 5 tahun.

Sabina, anak perempuan berusia 13 tahun mengatakan pada hari-hari sekolah, ia biasanya bekerja antara 4 sampai 5 jam. Jika tidak sekolah, ia bekerja antara 12 sampai 15 jam sehari. Ia mengatakan sebagian uang yang diperolehnya akan digunakan untuk membantu membiayai pernikahannya ketika ia menginjak usia 19 atau 20.

Produksi zari di kota ini kebanyakan berasal dari usaha rumahan, dan anak-anak seringkali bekerja dengan anggota-anggota keluarga. Kondisinya tidak seburuk seperti kondisi yang dialami mereka di pusat-pusat perkotaan yang padat di India dan juga tidak seburuk seperti yang dihadapi anak-anak yang bekerja dalam industri seperti pertambangan logam berharga.

Tetapi tempaan kemiskinan dan peluang-peluang terbatas telah memaksa kebanyakan anak-anak ini tumbuh lebih cepat dari usianya. Menurut berbagai data, jumlah buruh anak di India berkisar antara 20 sampai 50 juta.

Seorang gadis lain mengatakan keluar dari sekolah untuk bekerja. Adik laki-lakinya menjadi juara di kelasnya dan ia ingin menjadi insinyur. Tetapi, kata gadis itu, “Kami mungkin tidak bisa membiayai sekolahnya lagi.”

Jam-jam pembuatan zari yang membosankan merenggut waktu anak-anak yang seharusnya digunakan untuk belajar atau bermain dan menikmati masa kanak-kanak mereka. Tetapi, banyak keluarga benar-benar tidak punya pilihan lain.

Seorang laki-laki buta yang tidak bisa bekerja mengatakan, “Kami miskin. Menantu perempuan saya bekerja membuat zari untuk membiayai keluarga.” Ia sedih karena tiga sampai empat jam sehari yang digunakan cucu laki-lakinya untuk membuat zari berdampak buruk pada nilai-nilai sekolahnya.

Amerika dan negara-negara Barat lainnya berusaha menyesuaikan kebijakan-kebijakan mereka untuk melarang produk-produk yang dihasilkan buruh anak seperti kain zari dari Rashkali. Langkah-langkah seperti itu mungkin menyebabkan penderitaan, setidaknya dalam jangka pendek, bagi keluarga-keluarga yang tergantung pada pendapatan yang dihasilkan anak-anak mereka dari pembuatan zari.