Bentrokan Separatis dan Pasukan Keamanan Ukraina, 3 Tewas

Warga membawa pria yang terluka dalam protes pro-Rusia dekat markas militer Ukraina di Mariupol (16/4).

Insiden itu terjadi sementara menteri luar negeri Rusia dan Ukraina bersiap-siap melakukan pembicaraan darurat di menlu AS dan pimpinan Uni Eropa.
Menteri Dalam Negeri Ukraina mengatakan sedikitnya tiga orang tewas dan 12 luka-luka dalam bentrokan antara pengawal nasional dan kaum separatis pro-Rusia di luar pangkalan di kota Mariupol, Ukraina.

Arsen Avakov mengatakan orang-orang separatis itu menyerang pangkalan itu dengan granat dan bom bensin. Dia mengatakan pasukan melucuti senjata sebagian besar penyerang dan menangkap 63 orang.

Kelompok Separatis bersenjata tampaknya menuntut agar pasukan meninggalkan pangkalan. Kaum separatis itu berusaha menyerbu untuk menerobos pengawal yang melepaskan tembakan. Belum jelas siapa yang termasuk di antara korban jiwa.

Insiden itu terjadi sementara menteri luar negeri Rusia dan Ukraina bersiap-siap untuk melakukan pembicaraan darurat di Jenewa dengan Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry dan pimpinan kebijakan luar negeri Uni Eropa, Catherine Ashton.

Gedung Putih mengatakan Kerry akan mencari tanda-tanda Rusia sungguh-sungguh mengenai peredaan ketegangan di Ukraina. Juru bicara Jay Carney mengatakan Amerika Serikat siap memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia.

Dalam wawancara Rabu (16/4) dengan televisi CBS, Presiden Barack Obama mengatakan bakal ada konsekuensinya setiap kali Rusia mengambil langkah untuk menggoyahkan Ukraina dan melanggar kedaulatannya. Tetapi, Obama mengatakan ia yakin Rusia tidak menghendaki perang.

Moskow telah mengatakan pihaknya berhak melindungi penduduk berbahasa Rusia di Ukraina. Rusia menuduh para pemimpin baru Ukraina bersikap anti-Rusia dan anti-Yahudi dan mengancam hak rakyat yang pro-Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam acara televisi hari Kamis (17/4), bahwa pembicaraan Jenewa benar-benar penting dalam mencari kompromi di Ukraina.

Putin mengatakan proses demokrasi adalah satu-satunya cara untuk menertibkan kembali negara itu. Ia juga menyebutnya "omong kosong" untuk mengira ada unit militer Rusia di Ukraina. Dia mengatakan semua tindakan kelompok separatis dilakukan oleh warga setempat.

Duta Besar Amerika Samantha Power mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB hari Rabu (16/4), bahwa ada bukti substansial mengenai keterlibatan Rusia dalam kerusuhan di Ukraina timur. Dia menyebutnya penghasutan dan sabotase profesional yang diatur.