Musim kering yang berkepanjangan di Tunisia dapat membahayakan ekosistem satwa yang biasa tinggal di kawasan tersebut. Danau dan laguna yang terdapat di pesisir Tunisia terlihat kering dan terlalu panas sehingga mengganggu kawanan besar burung yang bermigrasi yang menggunakan lahan basah sebagai tempat persinggahan mereka di antara Afrika dan Eropa.
Flamingo terlihat di laguna Sijoumi yang hampir kering di Tunis, Tunisia 10 Agustus 2023. (Foto: REUTERS/Jihed Abidellaoui)
BACA JUGA:
Kepala Adat Amazon: Jika Deforestasi Tak Dihentikan, Bencana DatangHingga hujan badai yang melanda kawasan itu pada Juni yang jarang terjadi, Sijoumi sering kali kering. Para satwa dan burung lain yang bersarang di antara alang-alang, air, dan lumpur tempat babi hutan mencari makan menjelang fajar berisiko kehilangan tempat tinggal musiman mereka.
"Kekeringan panjang tahun ini secara signifikan berdampak pada banyak sistem lingkungan, khususnya lahan basah," kata Haddad. Tahun ini, kata dia, sama sekali tidak ada sarang di sana, katanya.
Flamingo terlihat di laguna Sijoumi di Tunis, Tunisia, 10 Agustus 2023. (Foto: REUTERS/Jihed Abidellaoui)
"Ada beberapa spesies yang tidak lagi datang ke Tunisia pada musim dingin," kata Azafzaf. Sekitar 30.000 angsa wajah putih yang lebih besar biasa melewati musim dingin di Taman Nasional Ichkeul di sebelah barat Tunis setiap tahun, tetapi pada Januari ini hanya 400-600 yang datang, tambahnya.
Perubahan iklim bukan satu-satunya bahaya bagi lahan basah Tunisia, katanya. Kota-kota tumbuh lebih dekat ke tepi laguna dan puing-puing dan limbah semakin sering dibuang di atau dekat air.
Namun laguna dan lahan basah lainnya juga tetap penting bagi manusia, di mana ia memiliki peran untuk mengatur suhu lokal selama gelombang panas dan membantu mencegah banjir berbahaya dengan menyerap curah hujan dari badai yang datang secara tiba-tiba. [ah/rs]