Pemerintah Belanda, Selasa (20/4), mengatakan sedang melonggarkan pembatasan ketat virus corona, mengakhiri jam malam yang kontroversial dan mengizinkan kafe untuk buka di luar ruangan mulai 28 April.
Penerapan jam malam pada Januari, yang pertama kalinya di Belanda sejak Perang Dunia II, memicu kerusuhan terburuk di negara itu dalam beberapa dekade.
"Kami tentu saja senang ini bisa dimungkinkan kembali karena masyarakat merindukan lebih banyak kebebasan," kata Perdana Menteri Mark Rutte pada konferensi pers.
Ia menambahkan pelonggaran itu "langkah yang sangat hati-hati dan waspada", karena infeksi masih meningkat dari minggu ke minggu sementara Belanda berupaya meningkatkan program vaksinasi.
Rutte menjelaskan kafe-kafe akan diizinkan buka di teras luar antara pukul 12.00 siang hingga pukul 18.00 waktu setempat dengan jumlah maksimal pengunjung 50 orang.
Warga juga akan diizinkan menerima dua tamu di rumah per hari, dibandingkan pembatasan saat ini, yaitu satu orang.
Pemerintah mengatakan, toko-toko akan diizinkan menerima pelanggan tanpa membuat janji sebelumnya.
Rutte, yang partainya memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan pada Maret setelah menangani pandemi, bersikeras pemerintah "tidak bertaruh" dalam upaya-upaya pelonggaran aturan Covid.
Belanda, dengan sekitar 17 juta penduduknya, telah mencatat 1,3 juta kasus Covid-19 dan 16.000 kematian sejak pandemi dimulai.
Setelah pertama-tama memilih "penutupan wilayah secara cerdas" yang jauh lebih longgar daripada tetangganya di Eropa, Belanda memberlakukan pembatasan ketat pada Oktober ketika kasus-kasus melonjak.
Kerusuhan selama berhari-hari terjadi di beberapa kota termasuk Amsterdam dan Rotterdam setelah diberlakukan jam malam, yang saat ini berlaku dari pukul 22.00 hingga pukul 04.30. [my/ka]