Australia Ingin Menjadi Tuan Rumah KTT Iklim PBB 2026

Balon bergambar bola dunia diterbangkan di tengah kerumunan massa, banyak dari mereka siswa sekolah, yang berkumpul di Sydney, Jumat, 20 September 2019, menyerukan tindakan untuk menjaga dunia terhadap perubahan iklim. (AP/Rick Rycroft)

Australia akan mengajukan tawaran dengan negara-negara Pasifik untuk mengadakan KTT iklim PBB tahun 2026. KTT Perubahan Iklim COP27 tahun ini di Mesir berlangsung dari 6 hingga 18 November. 

Selama bertahun-tahun Australia tertinggal di belakang negara-negara maju lainnya dalam tindakan menangani iklim. Pemerintahan konservatif yang berkuasa selama hampir 10 tahun hingga kalah dalam pemilihan Mei lalu, adalah pendukung setia industri bahan bakar fosil.

Batubara dan gas terus menghasilkan sebagian besar listrik Australia. Namun pemerintah Partai Buruh yang baru-baru ini terpilih, berusaha menampilkan Australia sebagai pembangkit tenaga energi terbarukan di panggung dunia.
Australia ingin menjadi tuan rumah COP31 – KTT iklim PBB tahun 2026 bersama negara-negara tetangganya di Pulau Pasifik.

Khawatir dengan naiknya permukaan laut dan meningkatnya frekuensi dan keparahan badai tropis, para pemimpin kawasan mengatakan, perubahan iklim merupakan ancaman nyata.

Your browser doesn’t support HTML5

Australia Ingin Jadi Tuan Rumah COP31

Menteri perubahan iklim dan energi Australia, Chris Bowen mengatakan pada konferensi media di Sydney hari Sabtu, menjadi tuan rumah bersama KTT iklim, akan “membantu mengangkat kasus Pasifik untuk lebih banyak bertindak mengatasi iklim.”

Para aktivis lingkungan menyambut baik tawaran Australia untuk menjadi tuan rumah bersama konferensi iklim COP31, meskipun mereka bersikeras Canberra kini harus berbuat lebih banyak untuk menghentikan pengembangan batu bara dan gas baru.

Simon Bradshaw, direktur penelitian proyek di Dewan Iklim, sebuah organisasi kampanye nirlaba mengatakan kepada kantor berita Australian Broadcasting Corp. hari Senin, kebijakan iklim Partai Buruh akan diterima dengan lebih baik pada pertemuan PBB di Mesir.

“Konferensi ini juga mengikuti apa yang telah menjadi bencana luar biasa, yang dipicu oleh iklim di seluruh dunia. Tentu saja, banyak orang Australia merasakan hal ini secara langsung, dengan situasi banjir yang sedang terjadi. Juga tentu saja, Australia muncul kembali dalam pembicaraan masalah iklim, tetapi akan berada di bawah banyak tekanan seperti lainnya, untuk benar-benar bertindak dan melakukan yang terbaik," jelasnya.

BACA JUGA: PM Australia Dukung Advokasi Iklim Raja Charles

Untuk pertama kalinya, Australia mempunyai undang-undang untuk memangkas produksi gas rumah kaca. Pada September, undang-undang baru disahkan oleh parlemen federal di Canberra yang akan mengurangi emisi karbon sebesar 43 persen selambatnya tahun 2030.

Beberapa bagian Australia mengalami banjir serius dalam dua tahun terakhir. Kota Forbes di New South Wales, 400 kilometer sebelah barat Sydney, mengalami banjir yang hampir mencapai rekor pada hari Sabtu dan Senin, dan air masih menggenangi daerah itu.

Komunitas lain di sepanjang Sungai Barwon-Darling di barat laut New South Wales diperkirakan akan tetap terisolasi selama berminggu-minggu. Dua gejala iklim, La Niña dan gaya tarik kutub utara dan selatan di Samudra Hindia memicu banjir. Itu dipengaruhi oleh suhu laut yang menghangat dan curah hujan di atas rata-rata di sebagian besar Australia. [ps/lt]