Saudi Pimpin Serangan Udara terhadap Pemberontak di Yaman

  • Scott Bobb

Pemberontak Houthi memeriksa bangunan perumahan yang hancur akibat serangan udara Saudi di dekat bandara Sanaa, Yaman, Kamis (26/3).

Serangan udara pimpinan Arab Saudi menggempur berbagai sasaran milik pemberontak Muslim Syi’ah yang hendak menjatuhkan presiden Yaman, Kamis (26/3).

Pesawat-pesawat tempur Arab Saudi memimpin serangan baru terhadap pemberontak Houthi di Yaman hari Kamis (26/3), sementara sekutu-sekutunya dari Teluk Arab dan lain-lain di kawasan itu bergegas membantu Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang diakui Internasional.

Serangan udara itu menggempur berbagai sasaran milik pemberontak Muslim Syi’ah Houthi yang ingin menjatuhkan Presiden Yaman. Gempuran membikin pemerintah Iran marah dan memperbesar ketakutan meluasanya konflik di kawasan tersebut.

Teheran hari Kamis mencela gempuran udara itu dengan menyatakan serangan itu hanya akan memperumit usaha mengakhiri konflik yang kemungkinan bakal bertambah mengobarkan permusuhan sektarian di seluruh kawasan. Iran mendukung pemberontak Houthi yang penganut mahzab Syi’ah di Yaman.

Sementara, pemerintah Arab Saudi menegaskan akan berbuat apa saja yang perlu untuk melindungi yang disebutnya selaku pemerintah Yaman yang sah. Liga Arab yang bersidang di Mesir menyatakan mendukung penuh tindakan Arab Saudi.

Para pejabat mengatakan serangan udara itu yang mulai Rabu malam menyerang instalasi-instalasi militer yang telah direbut Houthi sementara mereka meneruskan gerakan maju selama seminggu ini ke seluruh bagian selatan negara itu.

Yordania dan Mesir mengukuhkan pasukan mereka ikut dalam operasi itu, dan kantor berita pemerintah Saudi mengatakan Sudan, Maroko, dan Pakistan juga telah berjanji akan bergabung. Jaringan siaran Al-Arabiya milik Saudi mengatakan Arab Saudi sendiri sedang mempersiapkan 150 ribu tentara dan 100 pesawat tempur.

Hadi melarikan diri dari serangan Houthi di ibukota bulan lalu dan berlindung di kota pelabuhan Aden, Yaman selatan. Ia mengungsi lagi dan keberadaannya tidak diketahui umum hari Kamis.

Dengan serangan udara yang sedang berlangsung hari Kamis, pasukan yang setia kepada presiden merebut kembali bandara internasional Aden. Houthi sempat merebutnya hari Rabu, serta satu pangkalan udara penting sebelah utara Aden, kemudian membombardir kompleks kepresidenan di Aden.

Iran, yang merupakan saingan Saudi dan dianggap luas mendukung Houthi, mengutuk serangan-serangan itu, dengan mengatakan, tindakan militer tersebut adalah sebuah "invasi" yang dapat lebih merumitkan krisis di Yaman.

Pengamat militer Arab pada Lembaga Studi Keamanan Nasional di Tel Aviv, Israel, Yiftah Shapir mengemukakan banyak satuan militer Yaman telah bergabung dengan pemberontak Houthi sehingga memperbesar kekhawatiran akan perang saudara.

Shapir berkata, “Mengingat Houthi disokong Iran, maka ditakutkan Iran akan melibatkan diri dalam pergolakan di Yaman itu. Inilah yang amat dikhawatirkan banyak negara di kawasan sana.”

Menurut Shapir, pemberontakan Houthi di Yaman yang sudah berjalan puluhan tahun, bukan diprakarsai oleh Iran. Iran lebih banyak hanya mempertahankan kepentingan strategisnya.

“Kalau melihat dunia ini dari kacamata Iran, maka Iran melihat dunia ini sangat berbahaya karena Iran dikelilingi oleh musuh-musuh terbesarnya,” paparnya.

Shapir menambahkan bahwa negara-negara Arab melihat kegiatan Iran di Yaman merupakan ancaman bagi kepentingan mereka.

“Iran mengambil manfaat terbaik dari konflik di Yaman. Dan dengan begitu menempatkan dirinya dalam posisi yang mengancam hampir tiap orang di kawasan sana terutama Arab Saudi,” katanya.

Beberapa pengamat lainnya mengatakan, konflik itu sering dikaitkan dengan persaingan yang sudah berabad-abad antara Suni dan Syi’ah meskipun ada juga alasan lain.

Apa pun alasannya, konflik di Yaman menambah instabilitas di Timur Tengah dan diperalat bukan saja oleh Iran melainkan juga oleh kelompok Suni radikal seperti al-Qaida dan kelompok negara Islam ISIS.