Aktivis Tiongkok Chen Tulis Artikel di Surat Kabar AS

Chen Guangcheng memberikan keterangan pers di New York (Foto: dok).

Aktivis Tiongkok Chen Guangchen menulis artikel di harian New York Times mengenai pendapatnya terhadap masalah hukum dan perundangan Tiongkok.
Chen Guangchen dalam artikelnya di New York Times meminta kepada pemerintah Tiongkok agar menyelidiki tuduhan perlakuan kejam terhadap keluarganya dan pembangkang lain.

Pengacara otodidak yang berusaha memperoleh perlindungan diplomatik Amerika setelah melarikan diri dari tahanan rumah ini menuliskan bahwa ketiadaan hukum adalah masalah mendasar yang harus ditanggulangi oleh Beijing.

Chen, yang sekarang di Amerika bersama isteri dan anak-anaknya, mengatakan Tiongkok tidak kekurangan undang-undang, melainkan pembatasan kekuasaan hukum. Ia mengatakan kisahnya adalah contoh utamanya, dan mengemukakan para pejabat yang menangani kasusnya dapat secara terbuka meremehkan undang-undang negara selama bertahun-tahun.

Chen yang berusia 40 tahun itu dijatuhi hukuman empat tahun penjara tahun 2006 setelah mengungkapkan pelanggaran berdasarkan kebijakan aborsi paksa Tiongkok yang bertujuan untuk membatasi penduduk. Setelah dibebaskan dari penjara dia secara ilegal dikenakan tahanan rumah.

Artikel Chen mengulas tentang pandangannya terhadap undang-undang pidana yang berlaku di Tiongkok. Menurutnya, UU pidana tersebut apabila dilaksanakan akan dapat memberi perlindungan yang kuat terhadap pelanggaran seperti penahanan, penangkapan dan tuntutan sewenang-wenang. Tetapi, ia mengatakan prosedurnya dimaksudkan untuk memastikan polisi mematuhi undang-undang ini yang telah terbukti tidak memadai.