Minggu, 23 Nopember 2014 Waktu UTC: 18:46

VOA Kembali Membuka Kesempatan Broadcasting Fellowship ke AS
 

Kesempatan bagi para jurnalis muda Indonesia untuk memperoleh fellowship selama 6 - 12 bulan di Voice of America (VOA) Washington, D.C. :

 

Apakah Anda seorang wartawan atau lulusan baru di bidang jurnalisme? Ingin merasakan bekerja di Amerika?.

 

Setiap tahun PPIA dan VOA secara konsisten telah mengirimkan jurnalis-jurnalis muda ke AS, dan untuk yang ke delapan kalinya, tahun ini  Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) dan VOA  kembali  menawarkan kesempatan bekerja di VOA Indonesia di Washington DC selama 6 sampai 12  bulan melalui program PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2015/2016.

 

Program ini mencakup biaya perjalanan PP, akomodasi, biaya hidup, asuransi kesehatan, visa dan fiskal. Peluang ini terbuka bagi lulusan baru di bidang jurnalisme dan penyiaran, dan bagi wartawan dengan pengalaman maksimal tiga tahun di bidang penyiaran atau media cetak. 

 

Silakan klik di sini untuk mendapatkan formulir pendaftaran PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2015/2016.

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai fellowship ini silahkan hubungi kantor VOA Jakarta Telp: 021-5205355 atau email : fellowship@voanews.com, Facebook: VOA Indonesia, twitter: @VOAIndonesia, dan kunjungi website VOA di www.VOAindonesia.com.

 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai PPIA dan program-program yang dimiliki, silahkan menghubungi: Lesly A.M. Kolopita, Executive Director PPIA, melalui Telp: 021-7918 1149; 790 1460. Fax: 021-7918 1148

 

 

Tujuan Program Fellowship

Broadcasting Fellowship oleh PPIA-VOA adalah program kerjasama antara Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA) dengan Voice of America (VOA). Program ini memberi kesempatan berharga bagi para penyiar dan jurnalis muda Indonesia untuk mendapat pengalaman kerja di salah satu organisasi penyiaran internasional ternama, VOA di Washington, DC. Peserta akan bergabung dengan tim VOA Indonesia yang dinamis, di mana mereka akan mengembangkan keterampilan untuk memproduksi berita dan informasi lainnya sesuai dengan standar tinggi jurnalistik dan penyiaran VOA. Selama 6-12 bulan di AS, mereka memberi kontribusi kepada program multimedia VOA Indonesia di televisi, radio, internet dan ponsel untuk menyampaikan informasi yang akurat, berimbang dan obyektif bagi khalayak di Indonesia.

 

Konferensi Pers PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2014 di @america, Jakarta.Konferensi Pers PPIA-VOA Broadcasting Fellowship 2014 di @america, Jakarta.

Broadcasting Fellowship oleh PPIA-VOA juga merupakan perwujudan tujuan PPIA untuk meningkatkan pemahaman dan mempererat persahabatan antara Amerika Serikat dan Indonesia. Para peserta tak hanya memperoleh pengalaman profesional di VOA, mereka juga tinggal selama masa kerja tersebut di AS. Selama di sini, mereka berlaku sebagai duta tak resmi dari Indonesia di komunitas mereka di Amerika. Sekembalinya mereka ke Indonesia, mereka tidak hanya membawa kembali pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh di VOA, tapi juga dapat membagi pengalaman mereka hidup di Amerika dengan rekan, tetangga, teman dan keluarga mereka.


Ketentuan Fellowship

Setiap tahunnya, PPIA dan VOA memilih satu penyiar atau jurnalis muda. Mereka yang dapat melamar untuk program ini adalah lulusan baru perguruan tinggi, atau mereka yang telah memiliki pengalaman kerja tidak lebih dari tiga tahun.

PPIA menanggung biaya yang muncul selama proses seleksi, permohonan visa AS dan tiket pesawat ke dan dari Amerika bagi para peserta. Akomodasi, biaya hidup dan asuransi kesehatan di Amerika ditanggung dengan gaji peserta selama bekerja untuk VOA.

VOA menyediakan visa J-1 bagi para peserta. Dengan visa J-1, peserta diwajibkan untuk kembali ke Indonesia dan tinggal selama sekurang-kurangnya dua tahun, sebelum dapat melamar untuk bekerja atau tinggal di Amerika. Dengan demikian, peserta dapat menyalurkan pengetahuan dan pengalaman mereka di tanah air sekembalinya dari program ini.

Peserta yang terpilih tahunnya memulai bekerja untuk VOA di bulan April.

 

Yurgen Alifia menandatangani kontrak kerja dengan PPIA pada acara konferensi pers di @america, Jakarta.Yurgen Alifia menandatangani kontrak kerja dengan PPIA pada acara konferensi pers di @america, Jakarta.

Proses Seleksi

Tenggat waktu pendaftaran adalah 30 November. Dewan juri terdiri dari perwakilan PPIA dan VOA yang akan melakukan seleksi bertingkat terhadap para pelamar dan mengumumkan pemenang pada akhir Januari.


Pemenang Fellowship dari Tahun ke Tahun

Fellow yang terpilih untuk tahun 2008 adalah reporter Metro TV, Fauziah Erwin, dan Hanggapuri Anindita, pembawa acara Hard Rock FM. Sepulangnya ke Indonesia, Fauziah melanjutkan bekerja untuk Metro TV sebagai Kepala Biro Makassar, dan Hanggapuri menjadi Acting Program Director untuk Gen 98,7 FM Jakarta.

Pemenang untuk tahun 2009 adalah Esther Samboh dan Juanita Wiraatmaja. Esther adalah lulusan Fakultas Komunikasi Pelita Harapan dengan pengalaman di media cetak, seperti The Jakarta Post, majalah Hai, Cosmo Girl dan Trax. Sementara Juanita adalah presenter dan reporter untuk program Liputan 6 SCTV.

Pada tahun 2010, PPIA mendatangkan Nurina Asri Savitri dan Febriamy Hutapea. Nurina adalah reporter untuk MetroTV dan Febriamy adalah wartawan surat kabar berbahasa Inggris, The Jakarta Globe.

Tahun 2011, tiga jurnalis muda, Kartika Octaviana dari SunTV, Dewi Astuti dari Bisnis Indonesia dan Mahatma Putra, pembuat dokumenter dan fotografer freelance.


Dua jurnalis muda yang mendapat fellowship pada tahun 2012 adalah penyiar TraxFM Marsha Ryadi dan reporter Berita Satu Retno Lestari.

Jurnalis muda yang menerima fellowship pada tahun 2013 adalah reporter Metro TV Rafki Hidayat. Pemenang tahun 2014 adalah reporter dari MetroTV, Yurgen Alifia.

Latar Belakang PPIA

PPIA berdiri tahun 1959 dengan nama Lembaga Indonesia-Amerika (LIA). Tujuan utama organisasi nirlaba PPIA adalah untuk meningkatkan persahabatan antara warga Indonesia dan Amerika.


Untuk Informasi Selengkapnya

Lesly A.M. Kolopita, Executive Director PPIA
MLI II Building, Lantai 2
Jl. MT Haryono Kav 49
Pancoran, Jakarta, DKI Jaya, 12770
+62-21 7918 1149 dan +62-21 790 1460

 


Ikuti Kami

Video & Foto Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
i
|| 0:00:00
...  
🔇
X
  • Sejumlah mahasiswa mengenakan topeng Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dengan hidung panjang sebagai protes terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di luar istana Presiden Jakarta. Jokowi mengumumkan peningkatan tajam BBM pada hari Senin, dengan mengatakan subsidi pemerintah yang besar akan lebih baik digunakan untuk infrastruktur dan pembangunan.

     
  • Truk-truk pengangkut salju menunggu untuk membongkar salju yang dikumpulkan dari beberapa wilayah setelah terjadi badai salju berat, di Terminal Pusat di Buffalo, New York. Salju tebal yang juga menutup jalanan itu akhirnya berhenti pada hari Jumat.

     
  • Orang-orang ambil bagian dalam unjuk rasa di pusat Kyiv, Ukraina. Warga Ukraina menandai ulang tahun pertama unjuk rasa massal pro Uni Eropa yang menyebabkan perubahan dalam kepemimpinan negara itu dan membawa Ukraina lebih dekat ke Uni Eropa.

     
  • Para biarawati dan imam Katholik Myanmar memegang lilin saat berkumpul merayakan 500 tahun Jubile keberadaan Gereja Katolik di Myanmar, di Yangon.

     
  • Para pendukung Tim Piala Davis Perancis membentangkan bendera raksasa sementara mereka meneriakkan yel-yel dukungan kepada pemain Perancis Gael Monfils dalam pertandingan tenis  final SinglePiala Davis melawan Petenis Swiss Roger Federer di Stadion Pierre-Mauroy di Villeneuve d'Ascq, dekat Lille.

     
  • Orang-orang mengambil foto roket Rusia Soyuz-FG dengan kapsul ruang angkasa Soyuz TMA - 15M yang akan membawa kru baru ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), pada landasan luncur di Kosmodrom Baykonur yang disewa Rusia, di Kazakhstan. Dijadualkan Misi Soyuz baru itu dimulai pada hari Senin.

     
  • Pendukung calon Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi (seperti terlihat di potret), meneriakkan slogan-slogan dan melambaikan bendera-bendera di Bourguiba Avenue di ibukota Tunis, dalam sebuah kampanye pemilihan presiden mengawali pemilu yang diadakan pada 23 November.

     
  • Orang-orang berjalan di bawah tiang lampu yang berubah menjadi payung kuning di dekat wilayah utama lokasi protes di distrik pemerintahan di Hong Kong. Para pengunjuk rasa pro-demokrasi berada di persimpangan dengan berkurangnya dukungan publik setelah hampir dua bulan terjadi kerusuhan di jalan.

     
  • Lentera-lentera minyak yang dipersembahkan oleh warga tampak menerangi Sungai Bagmati dan mengalir melalui Kuil Pashupatinath, dalam festival Bala Caturdasi, di Kathmandu, Nepal. Festival ini dirayakan dengan menyalakan lentera dan menaburkan tujuh jenis biji-bijian yang dikenal sebagai 'sat biu' sebagai penghormatan terhadap para leluhur.

     
  • Orang-orang bersepeda sepanjang jalan dalam tur bersepeda untuk mempromosikan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan, di Damaskus, Suriah.
  • Seorang pengunjung terlihat melalui dekorasi Natal saat ia mengambil foto menggunakan telepon genggamnya di sebuah pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur, Malaysia. Semangat Natal sangat terasa di Malaysia, negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, di mana pusat perbelanjaan memasang dekorasi untuk membantu meningkatkan penjualan akhir tahun.

     
  • Kabut tebal menggantung di atas pelabuhan Husum, Jerman Utara. Perkiraan cuaca meramalkan turunnya hujan di hari-hari mendatang.

     
  • Nelayan Estelito Marijuan, 58 tahun, mengatur ikan-ikan kering di Teluk Manila, Filipina. Hari Perikanan Sedunia dirayakan setiap tanggal 21 November dan diperingati untuk memberikan perhatian pada penangkapan ikan secara berlebihan, perusakan habitat dan  ancaman serius lainnya terhadap kelestarian sumber daya laut dan air tawar.

     
  • Dekorasi-dekorasi  Natal diabadikan di depan menara televisi di Berlin, Jerman.

     
  • Foto dari udara pemandangan pantai Vermelha, di Rio de Janeiro, Brasil.

     
Galeri Foto

Galeri Foto 21 November 2014

Video

Video Tantangan Pertahankan Nasionalisme di Tanah Rantau

Kesempatan merantau membuat sebagian warga asal Indonesia tidak ingin lagi kembali ke tanah air. Tapi apakah menetap di luar negeri identik dengan tergerusnya rasa nasionalisme dan cinta tanah air? itulah yang dibahas dalam sebuah diskusi masyarakat Indonesia di Washington DC akhir pekan lalu.
Video

Video Impian Bermain Papan Selancar Terbang Menjadi Kenyataan

Film ‘Back to the Future’ buatan akhir 1980-an banyak menampilkan teknologi masa depan yang ternyata menjadi kenyataan, seperti TV layar datar dan video call. Tetapi satu yang masih ditunggu-tunggu keberadaannya adalah papan seluncur terbang atau hoverboard yang baru-baru ini menjadi kenyataan.
Video

Video Inkubator Tiup Berbiaya Rendah Bisa Selamatkan Banyak Bayi Prematur

Sekitar satu juta bayi di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena komplikasi akibat kelahiran prematur. Meski banyak yang bisa diselamatkan dengan inkubator, namun harganya mahal dan kadang tak tersedia di negara berkembang. Seorang mahasiswa Inggris merancang inkubator tiup berbiaya rendah.
 Aktivitas di Facebook