Jumat, 31 Oktober 2014 Waktu UTC: 10:41

Berita / Dunia

Uang Hasil Perburuan Hewan Liar Danai Terorisme

Dinas Margasatwa Kenya melaporkan adanya hubungan yang kuat antara perburuan liar dengan al-Shabab, yang merupakan afiliasi al-Qaida di Somalia.

Pasukan perlindungan alam liar Kenya menyita gading-gading gajah. (Foto: Dok)
Pasukan perlindungan alam liar Kenya menyita gading-gading gajah. (Foto: Dok)
Joe de Capua
Amerika Serikat baru saja meluncurkan prakarsa senilai US$10 juta untuk ikut mencegah perburuan liar binatang di Afrika, karena uang dari perdagangan gelap produk hewani mungkin digunakan untuk mendukung berbagai kelompok militan di benua itu.

Namun seorang pakar bernama Johan Bergenas  mengatakan, upaya-upaya anti-perburuan liar belum berhasil menghentikan pembantaian ribuan hewan langka setiap tahun.

“Perburuan sebagai kegiatan kriminal transnasional tentu bukan hal baru. Kami telah melihat peningkatan jumlah pembunuhan hewan tak berdaya dalam 12 sampai 18 bulan terakhir,” ujar Bergenas, deputi direktur Managing Across Boundaries Initiative pada Stimson Center, sebuah lembaga riset nirlaba dan nonpartisan di Washington.

Pola lebih menarik dan berbahaya adalah bahwa kelompok-kelompok kriminal transnasional, yang menyelundupkan barang-barang haram lainnya, apakah itu narkoba atau senjata atau apa saja dan juga organisasi-organisasi teroris, kini semakin mendapat untung dari perburuan dan kegiatan-kegiatan tersebut.
Bergenas mengatakan militan Somalia adalah di antara mereka yang mendapat keuntungan dari kegiatan perburuan liar.

Dinas Margasatwa Kenya telah melaporkan selama beberapa tahun mengenai hubungan yang kuat antara perburuan liar dengan al-Shabab, yang merupakan afiliasi al-Qaida di Somalia.

“Kita juga melihat meningkatnya laporan saksi mata dari orang-orang yang telah meninggalkan jaringan ini dan keluar serta bersaksi bahwa, misalnya, Tentara Perlawanan Tuhan, dan kepalanya Joseph Kony, secara khusus mengusahakan perburuan liar dan pendapatan dari kegiatan itu untuk membeli perbekalan, senjata dan berbagai peralatan lainnya,” ujar Bergenas.

Polisi jagawana dan lain-lain yang terlibat dalam upaya anti-perburuan liar sering kalah dalam jumlah personil dan persenjataan.

“Para pemburu ini tidak lagi menggunakan senjata sederhana. Mereka benar-benar berburu dengan menggunakan helikopter, senapan mesin, teropong malam hari, dan kita harus menanggapi dengan teknologi yang sepadan untuk mengatasi masalah ini,” ujar Bergenas.

Pejabat Stimson Center itu mengatakan tindakan baru-baru ini oleh pemerintahan Obama merupakan langkah besar ke arah yang benar.

“Presiden Obama telah membentuk gugus tugas yang akan melihat proses antar lembaga untuk memerangi perdagangan gelap satwa liar secara lebih luas. Jadi pada akhir proses itu, akan ada laporan dan strategi nasional Amerika untuk tujuan itu. Dia juga menjanjikan tambahan $10 juta, yang tentu saja tidak akan cukup untuk mengatasi ancaman ini,” ujarnya.

Dia mengatakan Amerika dan sekutu-sekutunya dari Eropa perlu mengambil pendekatan yang berbeda secara mendasar ketika bermitra dengan negara-negara Afrika.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook