Jumat, 01 Agustus 2014 Waktu UTC: 09:49

Berita / Dunia

Stereotip Halangi Perempuan Jadi Ilmuwan

Semakin sedikit perempuan yang belajar sains atau bekerja di sektor sains dan teknologi, karena stereotip gender dan bias mengenai bidang tersebut.

Seorang ilmuwan asal Thailand meneliti sel virus influenza di kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Bangkok. (Foto: Dok)
Seorang ilmuwan asal Thailand meneliti sel virus influenza di kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Bangkok. (Foto: Dok)
Di seluruh dunia, semakin sedikit perempuan yang mengambil program sains di universitas atau bekerja dalam sektor sains dan teknologi, dan para ahli pendidikan menyalahkan situasi ini pada stereotip penampilan ilmuwan.

Sebuah penelitian global yang diberi nama Papan Nilai Kesamaan Gender dan Pengetahuan Masyarakat, menggambarkan persentase perempuan di bidang sain sebagai “sangat rendah.”

“Perempuan sangat tidak terwakili dalam program untuk gelar dalam sains dan teknologi di universitas,” ujar Sophia Huyer, direktur eksekutif Women in Global Science and Technology, sebuah kelompok nirlaba dengan fokus kebijakan dan riset yang termasuk dalam tim yang melakukan penelitian tersebut.

Huyer mengatakan perempuan-perempuan di negara-negara yang disurvei, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa, merepresentasikan kurang dari 30 persen dalam pendaftaran jurusan fisika dan teknik, dan sekitar 30 persen atau kurang ada dalam angkatan kerja di sektor sains dan teknologi. Satu-satunya kekecualian adalah dalam biosains dan ilmu hayati, dengan persentase perempuan mencapai 50 persen.

Corinne Moss-Racusin, asisten dosen program pascadoktoral di Universitas Yale, melakukan did studi mengenai bias dalam sains dan menyimpulkan bahwa lebih banyak perempuan pada tingkat profesional lebih rendah terhambat karirnya, bahkan setelah mendapatkan gelar doktor.

“Mereka tidak mendapat dukungan atau dorongan untuk tetap bertahan di bidangnya seperti yang didapat pria,” ujarnya.

Penelitian Moss-Racusin juga mengindikasikan bahwa para profesor atau atasan perempuan lebih cenderung memperlihatkan bias gender terhadap mahasiswi dibandingkan terhadap mahasiswa. Ia mengatakan bahwa hal ini disebabkan stereotip gender yang menekankan bahwa sains itu bidang yang maskulin dan ilmuwan perempuan kurang kompeten.

Mengutip studi yang lain, Toni Schmader, ketua riset psikologi sosial di Universitas British Columbia di Vancouver, Kanada, mengatakan bahwa “para mahasiswa/mahasiswa yang lebih banyak mendapat dosen laki-laki untuk kuliah matematika dan sains cenderung memiliki bias kuat bahwa matematika identik dengan laki-laki selama satu tahun pertama di universitas.”

Mungkin banyak orang akan menyangkal prasangka tersebut, namun Lisa Wade dari Occidental College di California mengatakan, “setiap kita melihat ilmuwan itu seorang laki-laki, atau setiap kita melihat suatu hal yang ilmiah diasosiasikan dengan laki-laki, otak kita merekamnya. Ide bahwa fisika adalah bidang yang maskulin direkam juga oleh otak kita.”

Mahasiswi doktorat sedang bekerja di Laboratorium Kimia Kline di Universitas Yale, New Haven, Connecticut. (Foto: AP)Mahasiswi doktorat sedang bekerja di Laboratorium Kimia Kline di Universitas Yale, New Haven, Connecticut. (Foto: AP)
x
Mahasiswi doktorat sedang bekerja di Laboratorium Kimia Kline di Universitas Yale, New Haven, Connecticut. (Foto: AP)
Mahasiswi doktorat sedang bekerja di Laboratorium Kimia Kline di Universitas Yale, New Haven, Connecticut. (Foto: AP)
Jadi untuk ilmuwan perempuan, Wade mengatakan bahwa sukses berarti “sejenis maskulinitas yang, ketika dilakukan oleh perempuan, membuat mereka tidak disukai dan ketika mereka tidak melakukannya, mereka dianggap tidak kompeten.”

Wade, ketua departemen sosiologi di Occidental College, mengatakan bahwa ia tidak terkejut dengan tren-tren ini, karena kemajuan perempuan telah terhambat, paling tidak di Amerika Serikat, sejak 1990an. Menurutnya, pertama karena meski perempuan didorong untuk bekerja di luar rumah, tidak ada revolusi serupa yang mendorong pria untuk tinggal di rumah.

“Alasan lain karena, saya yakin, kita memiliki reaksi budaya yang melawan hal itu,” tambahnya.

“Ide bahwa perempuan harus menikah dan punya anak dan sekali mereka memiliki anak maka tanggung jawab utama mereka adalah untuk anak-anak tersebut, itu adalah masalah yang menghambat perempuan dalam mencapai kesetaraan dengan laki-laki.”

Dan persepsi itu ada di seluruh dunia, bahwa “perempuan seharusnya menikah dan punya anak dan tidak berpartisipasi dalam angkatan kerja atau kehidupan publik di negara mereka,” ujar Huyer, dengan memberi contoh Korea, di mana jumlah perempuan yang bersekolah sama atau lebih tinggi daripada laki-laki namun kemudian menikah dan tinggal di rumah.

“Negara-negara yang mendukung perempuan untuk masuk ke dalam bidang sains, meski tidak dalam level yang setara, memberi dorongan dan dana.. namun tetap saja perempuan tidak masuk ke dalam angkatan kerja,” Huyer berkata. Hal ini adalah menyia-nyiakan investasi dan bakat, terutama di negara-negara berkembang di mana kaum berpendidikan memilih pindah ke negara maju.

“Mereka tidak bisa mengabaikan kemampuan setengah dari populasi mereka,” ujar Huyer.

Situasi ini terutama ditemukan di Asia, kecuali India, di mana perempuan memiliki tingkat partisipasi tinggi dalam bidang biosains, kesehatan dan medis.

Namun, bias-bias tertentu tetap muncul di India. Mahasiswi sains Souvik GT mengatakan seorang anggota staff universitas memberitahu seorang mahasiswa yang akan menikah dan berencana terus kuliah, “Untuk apa kuliah lagi setelah menikah? Keluar saja dan lakukan tugasmu sebagai istri secara penuh.”

Dalam banyak kasus, Huyer mengatakan gadis-gadis muda enggan masuk sains “karena mereka merasa tidak bisa matematika, kurang bagus di fisika. Di banyak negara masih ada persepsi bahwa laki-laki lebih unggul dalam bidang-bidang ini, yang kita tahu tidak benar.” 

Namun Jill Payne McDonald, seorang ahli kimia di AS, mengatakan faktor seksis tidak berlaku. “Jika seseorang tidak yakin akan kemampuannya, orang lain juga akan tidak yakin,” ujarnya. McDonald mengatakan bahwa ia sering melihat laki-laki dengan pengalaman atau kemampuan lebih rendah dipromosikan meski ada perempuan yang pengalaman dan kemampuannya lebih tinggi, namun mereka tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Beberapa studi menyarankan bahwa perempuan tertarik menjelajah pilihan karir dalam bidang-bidang yang didominasi pria seperti ilmu komputer, jika stereotip mengenai ilmuwan komputer berbeda.

Perubahan stereotip dan bias menuntut para individu untuk sadar akan bias-biasnya. “Diperlukan pendidikan kembali untuk individu tersebut,” ujar Wade dari Occidental. “Pada masyarakat, yang harus kita hentikan adalah mengasosiasikan sains dengan laki-laki dan maskulinitas, jadi otak kita tidak mengembangkan struktur tersebut.” 

Bahkan jika sudah sadar sekalipun, Schmader mengatakan bahwa individu harus termotivasi untuk mengubah asumsi mereka mengenai penampilan ilmuwan. (VOA/Aida Akl)
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook