Jumat, 24 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 12:31

Berita / Gaya Hidup / Kesehatan

1 Persen Penduduk Dunia Derita Autis

Tujuh puluh juta orang atau 1 persen populasi dunia menderita autisme, kelainan syaraf yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan mengurus diri sendiri.

Dengan diagnosis dan perawatan dini – layanan-layanan yang masih belum tersedia di banyak negara, penderita autis bisa meraih mimpi mereka (foto: dok).
Dengan diagnosis dan perawatan dini – layanan-layanan yang masih belum tersedia di banyak negara, penderita autis bisa meraih mimpi mereka (foto: dok).
UKURAN HURUF - +
Tujuh puluh juta orang, atau 1 persen dari populasi dunia, menderita autis, suatu kelainan syaraf yang mempengaruhi kemampuan mereka berinteraksi dengan orang lain dan mengurus diri sendiri. Meskipun pengobatan sudah tersedia di negara-negara maju, banyak aktivis menyatakan prospek penderita autis yang parah itu suram.

Mereka yang mengalami autis ringan dapat lebih berhasil berbaur di tengah masyarakat. Namun, yang dialami Kevin Gibson, seorang penderita autis, ini berbeda.
 
Gibson justru senang tinggal di apartemennya sendiri. “Senang sekali dapat hidup mandiri,” ujarnya.
 
Ini suatu hal yang jarang dicapai seorang penderita autis, gangguan perkembangan yang dapat menyebabkan kesulitan berkomunikasi serta canggung dalam bersosialisasi.
 
Tetapi setiap pagi, Kevin dapat mengenakan baju sendiri, menyiapkan bekal makan siangnya serta berjalan menuju kantor biro hukum tempat kerjanya.
 
Martin Geissler, salah seorang pendiri MG-IP, kantor tempat Gibson bekerja, menuturkan, “Ia adalah salah seorang pegawai kami yang amat cermat. Ia bangga dengan pekerjaannya.”
 
Geissler menambahkan, “Kami mencari seseorang untuk bekerja di ruang dokumentasi yang akan bertahan hingga beberapa tahun, bukan seseorang yang bekerja selama 6 bulan. Kevin, cocok bekerja di sana. Ia mengirim biodatanya. Kami menerima lebih dari 130 biodata dalam 24 jam pertama. Jadi dari semuanya itu, kami memilih Kevin.”
 
Para difabel dewasa – mulai dari penyandang autis seperti Kevin, hingga tunanetra dan lumpuh sebagian – kerap mengalami kesulitan di pasar kerja, tetapi pemerintah setempat dan kelompok-kelompok layanan sosial menawarkan bantuan untuk mencari pekerjaan bagi mereka.
 
Lauren Goldschmidt, pelatih Kevin Gibson di dunia kerja, memaparkan, “Perhatian Kevin terhadap detail dan keterampilan mengorganisasi baik sekali. Ia sangat cermat dalam melakukan apapun yang ditugaskan.
 
Goldschmidt bekerja bagi ServiceSource, organisasi lokal yang mempertemukan pencari kerja yang difabel dan perusahaan yang mencari pegawai. Ia mengatakan langkah pertama bagi pelatihan kerja adalah mengenali orang-orang yang mereka bantu.
 
Orang-orang muda dengan kelainan fisik dan perkembangan mental menerima dukungan di sekolah.

Ibu Kevin Gibson, Mary Lou Nuget, mengatakan anaknya mengikuti program khusus pra-sekolah yang menyediakan terapi wicara dan fisik serta pelatihan keterampilan berkomunikasi. Ayah Kevin, Fred Gibson, mengatakan bangga dengan apa yang telah dicapai anaknya itu. Menurutnya, fakta bahwa sang anak menderita autistik bukan berarti ia tidak cerdas. Anaknya, lanjut Fred Gibson, memiliki keingintahuan yang kuat dan tertarik pada dunia di sekitarnya.
 
Berkat diagnosis dan perawatan dini – layanan-layanan yang masih belum tersedia di banyak negara lain – Kevin Gibson dapat mencapai mimpi-mimpinya.
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda
 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Kebijakan Drone - Liputan Berita VOA

Presiden Amerika Barack Obama memaparkan stategi pemerintahannya menanggulangi ancaman terorisme internasional. Isu utama yang dijabarkan dalam pidato ini adalah penggunaan pesawat tidak berawak atau drone yang masih menurut analis berandil mencegah aksi terorisme meski juga dikritik banyak pihak. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C.
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang polisi Inggris membawa bunga di dekat lokasi pembunuhan seorang tentara Inggris di Woolwich, London tenggara.
  • Lego terbesar di dunia yang dibuat berdasarkan model pesawat pada film Star Wars, dipajang di Times Square, New York.
  • Orang-orang menarikan tarian "al-Bara" dalam upacara pernikahan massal di Sana'a, Yaman.
  • Pembalap Red Bull Sebastian Vettel dari Jerman tampak pada helm petugas pemadam kebakaran di pit saat sesi latihan di arena balap Monaco.
  • Seorang pria mengumpulkan bunga teratai untuk dijual, di kolam Bindu Sagar di kota Bhubaneswar, India.
  • Kilatan halilintar di atas langit kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, China.
  • Para kadet Tentara Nasional Afghanistan menghadiri upacara wisuda mereka di Pusat Pelatihan Militer di Kabul.
  • Air mancur yang menyala sebagai bagian dari Aquatique International Show, di pelabuhan Darling, kota Sydney, Australia.
  • Seorang pejalan kaki membawa payung berjalan melewati layar raksasa di kota Boston, Massachusetts, AS.
  • Seorang pengunjung berdiri di belakang ilustrasi seekor burung hantu, bagian dari pameran di kota St Petersburg, Rusia.
Lainnya