Sabtu, 20 Desember 2014 Waktu: 13:33

Berita / Politik

Indonesia dan Tiongkok akan Produksi Misil Bersama

Indonesia mengadakan pembicaraan dengan Tiongkok mengenai produksi bersama misil anti-kapal C-705.

Menurut Michael Tene, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, kerjasama Indonesia-Tiongkok untuk memproduksi misil anti-kapal C-705 merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan militer Indonesia (foto: Dok).
Menurut Michael Tene, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, kerjasama Indonesia-Tiongkok untuk memproduksi misil anti-kapal C-705 merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan militer Indonesia (foto: Dok).
Rencana untuk memproduksi bersama misil itu pertama muncul bulan Juli, pembicaraan yang kemudian dilanjutkan ketika Menteri Luar Negeri Tiongkok Yang Jiechi berkunjung ke Jakarta minggu lalu.
 
Kementerian Pertahanan Indonesia menegaskan bahwa perjanjian untuk produksi misil itu akan ditandatangani Indonesia dan Tiongkok bulan Maret 2013.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Michael Tene mengatakan, kerjasama itu merupakan bagian dari tujuan yang lebih luas untuk meningkatkan kemampuan militer Indonesia.
 
“Kami membangun hubungan dekat dengan semua negara sahabat untuk mengembangkan kemampuan pertahanan kami, bukan hanya melalui perbekalan, tetapi juga investasi dan produksi bersama untuk meningkatkan kemampuan kami mengembangkan industri pertahanan dan tentu saja dengan Tiongkok juga, kami punya banyak kerjasama untuk mengembangkan industri di bidang itu,” papar Tene.
 
Rencana produksi misil bersama itu dikemukakan selagi ketegangan memuncak di Laut Cina Selatan.
 
Menteri-menteri ASEAN bulan lalu gagal menyepakati tata perilaku multilateral untuk menyelesaikan klaim-klaim teritorial yang tumpang tindih.
 
Para analis politik mengatakan kegagalan itu mengakibatkan tata perilaku multilateral itu lebih memperkuat posisi Tiongkok untuk mendominasi sengketa bilateral dengan negara-negara yang lebih kecil di kawasan itu.
 
Namun, Kementerian Pertahanan Indonesia menyangkal bahwa rencana untuk memproduksi misil laut berjangkauan 120 kilometer dengan bantuan Tiongkok adalah mengenai pembangunan aliansi yang lebih kuat terkait sengketa maritim itu.
 
Analis pertahanan Universitas Indonesia Yohannes Sulaiman mengatakan, Indonesia hanya berusaha mendesakkan tawaran terbaiknya yang bisa diperoleh dan tetap tergantung pada Amerika untuk piranti keras militernya.
 
“Jika hal yang tidak diinginkan terjadi di Papua, Amerika akan melakukan embargo militer dan kita akan kekurangan pasokan. Itulah sebabnya militer berusaha memperluas hubungannya, khususnya dengan Tiongkok, sebagai pemasok lain senjata,” ujar Sulaiman.
 
Amerika memberlakukan embargo militer enam tahun terhadap Indonesia tahun 1999 terkait isu HAM di Timor Timur.
 
Sulaiman mengatakan banyak perwira militer dan jenderal Indonesia menyampaikan keprihatianan bahwa tuduhan pelanggaran HAM di Papua Barat yang kaya mineral bisa memicu embarago lainnya.
 
Pada saat bersamaan, katanya, Indonesia hampir tidak punya strategi besar mengenai bagaimana menanggapi kekuatan regional saat ini yang dimainkan Amerika dan Tiongkok.
 
Sementara Indonesia mengembangkan hubungan dengan semua pihak yang terkait sengketa Laut Cina Selatan, Amerika minggu ini memperingatkan bahwa ada upaya untuk memecah belah dan menguasai Laut Cina Selatan, dan mengulangi dukungannya atas tata perilaku multilateral di jalur perdagangan global itu.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Rob dari: Bekasi
23.08.2012 23:50
USA lah yg seharusnya kita waspadai krn USA akan hanya mencari keuntngan diri sendiri saja dan kita sdh sering mengalami di dikte & oleh USA yg ingin menguasai dunia dg cara untung mereka sndiri. China bukan lah negara yg menjalan politik enak nya mereka sndiri dpt USA. Bukti nya China membela SUriah & bbrp Negara yg akan ditindas USA. HAti2 oleh orang kulit Putih, Mereka Jahat & mau nya menang sendiri.


oleh: wjogja dari: jogja
22.08.2012 23:43
Langkah bagus! Intinya di sini adalah memperluas kerjasama. NON BLOK. Harus mengurangi ketergantungan dengan AS. Ikut AS kita cumen jadi kacung terus. Mereka yg jd Boss. Mari kita jadi penguasa di negeri sendiri.


oleh: Bram dari: Indonesia
17.08.2012 21:28
Tidak benar krisis di Papua akan mengalami Nasib seperti Di TIM-TIM. Selama AS ada di Free Port akan aman2 saja. Indonesia harus WASPADA dgn CLAIM Cina terhadap Laut Cina Selatan yg akan meraup Kep Spratly sampai memotong ZEE Kep Natuna, sesuai PETA keluaran versi CINA Kewaspadaan Serius tsb harus diimplementasi dgn membangun POSTUR Angkt Laut dan Angkt Udara di LCS (Laut Cina Sel). Dan AS berencana mnghibahkan Pswt Tempur F-16 beberapa Skadron,

 

 

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook