Rabu, 30 Juli 2014 Waktu UTC: 07:02

Indonesia Akan Luncurkan Program Emas Untuk Turunkan Angka Kematian Ibu Melahirkan

Menurut Direktur Jenderal Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Slamet Riyadi Yuwono saat ini terdapat 10 provinsi dengan tingkat angka kematian ibu melahirkan tinggi.

Bayi kembar empat sedang dirawat di rumah sakit bersalin Stella Maris, Medan (Foto: dok).
Bayi kembar empat sedang dirawat di rumah sakit bersalin Stella Maris, Medan (Foto: dok).
Fathiyah Wardah

Pemerintah Indonesia tahun ini akan melaksanakan Program Emas atau Expanding Maternal and Newborn Survival yang bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat. Program ini untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi di Indonesia.

Direktur Jenderal Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Slamet Riyadi Yuwono kepada wartawan di kantornya, Jumat menjelaskan saat ini terdapat 10 provinsi yang angka kematian ibu melahirkannya tinggi.

Sepuluh daerah tersebut adalah Jawa Timur, Jawa  Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Banten, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Lampung dan Sulawesi Tengah.

Menurut Slamet, angka kematian ibu di Indonesia jumlahnya mencapai 228 per 100 ribu kelahiran hidup. Jumlah ini menurut Slamet masih jauh dari target Tujuan Pembangunan Millenium atau MDGs yaitu 102 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2015.

Untuk itu pemerintah saat ini terus melakukan upaya menurunkan angka kematian ibu diantaranya dengan memberikan Jaminan Persalinan atau Jampersal yang mulai berlaku tahun ini.

Menurut Slamet, masyarakat akan mendapatkan jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir.

Selain itu pemerintah juga akan memperbanyak tenaga-tenaga medis dan juga puskesmas keliliing di daerah-daerah yang angka kematian ibu melahirkannya tinggi.

"Persebaran tenaga bidan maupun dengan dokter yang akan lebih diperkuat lagi. Pada daerah-daerah terpencil dikembangkan yang namanya sister hospital. Di NTT misalnya dari 21 Kabupaten Kota, sudah 14 Kabupaten Kota yang sudah dibantu oleh fakultas-fakultas kedokteran yang mengirim perwakilannya yang sudah senior untuk menolong," kata Slamet Riyadi Yuwono.

Slamet Riyadi Yuwono juga menjelaskan untuk mengatasi angka kematian ibu yang tinggi di Indonesia, pemerintah mulai tahun ini juga akan melaksanakan program Emas atau Expanding Maternal and Newborn Survival yang bekerjasama dengan pemerintah Amerika Serikat.

Dalam program ini, Amerika Serikat memberikan bantuan sebesar 55 juta dolar Amerika. Program tersebut kata Slamet akan dilakukan secara bertahap.

Gambar ultrasound saat pemeriksaan kehamilan di sebuah rumah sakit bersalin (Foto: dok). Pemerintah Indonesia akan meluncurkan program emas untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan.
Gambar ultrasound saat pemeriksaan kehamilan di sebuah rumah sakit bersalin (Foto: dok). Pemerintah Indonesia akan meluncurkan program emas untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan.

Pada tahun ini program tersebut akan dilakukan di enam provinsi yang memiliki  70 persen kasus kematian ibu. Daerah tersebut adalah  Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat.

"Program Emas intinya satu, memperkuat pelayanan di tingkat puskesmas, yang kedua, pelayanan ditingkat rumah sakit dengan 24 jam. Para bidan, para dokter di wilayah tersebut ditingkatkan kemampuan bagaimana menolong persalinan. Yang kedua, bagamana cara pengiriman ibu yang mau melahirkan, mendiagnosis dengan tepat," imbuh Slamet Riyadi.

Koordinator Program Nasional United Nations Population Fund di Jakarta atau Organisasi PBB untuk mempromosikan hak setiap perempuan, laki-laki dan anak, Lany Harijanti menilai kebijakan pemerintah untuk mendukung angka kematian ibu melahirkan sudah mencatat kemajuan berarti.

Tetapi, kebijakan yang baik dari pemerintah pusat tersebut tidak diikuti secara baik oleh sejumlah pemerintah daerah. "Desentralisasi juga menjadi salah satu kendalanya. Banyak pemerintah daerah yang tidak mengagendakan MDG itu menjadi salah satu poin penting," kata Lany Harijanti.

Menurut Lany, diperkirakan sekitar 10.000 perempuan meninggal dunia akibat komplikasi saat kehamilan dan bersalin setiap tahunnya di Indonesia.

Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda