Tautan-tautan Akses

AS

Wawancara VOA dengan Direktur Dewan Hubungan Islam di Amerika


Direktur Komunikasi Dewan Hubungan Islam di Amerika (CAIR) Ibrahim Hooper (kiri), Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad dan tokoh muslim AS, Mahdi Bray memberikan keterangan pers (foto: dok).

Direktur Komunikasi Dewan Hubungan Islam di Amerika (CAIR) Ibrahim Hooper (kiri), Direktur Eksekutif CAIR Nihad Awad dan tokoh muslim AS, Mahdi Bray memberikan keterangan pers (foto: dok).

VOA mewawancarai Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi Dewan Hubungan Islam di Amerika atau CAIR, dan meminta komentarnya mengenai pembunuhan 3 mahasiswa Muslim di North Carolina.

Tiga mahasiswa Muslim ditembak mati di bagian kepala di Chapel Hill – North Carolina tanggal 10 Februari lalu. Ada yang mengatakan pembunuhan ini berawal dari keributan di lapangan parkir. Tetapi tidak sedikit yang mengatakan bahwa ini alasan semata, karena besar kemungkinan motifnya adalah karena kebencian terhadap agama tertentu.

VOA mewawancarai Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi Dewan Hubungan Islam di Amerika atau “Council on American Islamic Relations” (CAIR) dan berikut petikan pembicaraannya.

VOA: Bagaimana tanggapan Anda dengan pembunuhan tiga warga Muslim di Chapel Hill – North Carolina Selasa (10/2) malam?

Ibrahim Hooper: “Dari apa yang kami ketahui, tiga warga Muslim dieksekusi dengan cara ditembak di bagian kepala, diduga oleh tetangga mereka sendiri, dan kami mendengar laporan sebelumnya bahwa mereka sebelumnya sudah beberapa kali dilecehkan oleh tetangga tersebut, meski kami masih mengecek laporan ini. Tetapi melihat kejahatan yang sangat brutal ini dan tetangga ini kerap memasang gambar atau status anti-agama di Facebook – baru-baru ini misalnya ia memasang gambar senjata yang penuh diisi peluru, juga fakta bahwa kedua korban mengenakan pakaian Muslim – dalam arti mengenakan penutup kepala atau jilbab – dan fakta lain di mana kita melihat meningkatnya pesatnya kejahatan anti-agama di sekitar kita baru-baru ini, maka gabungan seluruh fakta ini membuat kami meminta polisi untuk menyelidiki kemungkinan bias motif dalam kejahatan ini.”

Bagaimana Anda melihat perlakuan media dalam kasus ini?. Banyak yang mengkritisi media karena tidak cepat memberitakan kasus ini?.

“Terlalu dini untuk mengecam cara media memberitakan kasus ini, selain karena peristiwanya terjadi pada Selasa tengah malam, memang diberitakan sangat luar biasa oleh media-media lokal disana yang langsung dikutip media-media internasional. Tetapi saya belum ingin mengkritisi cara media nasional memberitakan hal ini. Kita lihat perkembangannya hari ini.”

Tetapi banyak yang mengatakan perlakuan media akan sangat berbeda jika pelaku penembakan adalah warga Muslim dan korbannya non-Muslim?

“Memang tanpa perlu dikatakan lagi… jika pelakunya warga Muslim pasti sudah menjadi berita-berita utama media nasional dan internasional. Inilah kondisi dan masa di mana kita hidup sekarang pasca 911. Yang kami tuntut para penegak hukum lakukan sekarang ini adalah mempercepat dikeluarkannya informasi atas apa yang sesungguhnya terjadi. Karena memang kadangkala dibutuhkan waktu untuk menyerap informasi tersebut, apalagi begitu banyak bias motif yang melingkupi kasus ini – terutama di internet dan sosial media. Informasi resmi kami butuhkan untuk menentukan langkah selanjutnya”.

Jadi hingga kini kita belum yakin apakah kejahatan ini merupakan kejahatan terkait kebencian atas agama tertentu?

“Kita belum tahu motifnya. Tetapi berdasarkan fakta-fakta yang saya sampaikan tadi, ada kemungkinan motifnya adalah kebencian atas agama. Kita belum bisa memastikan hal itu, karenanya kami minta pihak berwenang merilis informasi sesegera mungkin supaya reaksi kami atas peristiwa ini tidak didasarkan pada spekulasi tetapi pada fakta semata”.

Akankah peristiwa ini menimbulkan pengaruh pada warga Muslim di Amerika secara keseluruhan?

“Ya warga Muslim-Amerika saat ini memang merasa berada di bawah tekanan, terutama setelah begitu banyak kecaman diarahkan kepada kami pasca pembunuhan di Charlie Hebdo dan kebrutalan perlakuan kelompok teroris ISIS. Saya sendiri sudah menerima puluhan telfon dan email bernada kebencian, bahkan sejumlah ancaman pembunuhan pada minggu-minggu awal pasca pembunuhan di Charlie Hebdo dan insiden oleh ISIS. Jadi Anda bisa bayangkan dampaknya pada warga Muslim lain di Amerika”.

Jika kejahatan ini bermotif kebencian pada warga Muslim, apakah reaksi publik bakal berbeda dibanding pembunuhan di Charlie Hebdo?

“Tidak. Ini argumentasi yang disampaikan warga Muslim di Amerika dan juga di seluruh dunia. Yaitu jika motif kejahatan ini bias, ini merupakan teror aktif. Jika Anda tidak menyebutnya sebagai teror, saya ingin mempertanyakan hal itu. Kenapa Anda tidak menyebutnya sebagai teror?. Jika Anda menyebut tindakan kejahatan serupa yang dilakukan warga Muslim merupakan tindakan teror, mengapa ini tidak?. Mengapa Anda tidak menyebut kejahatan ini sebagai teror?. Tetapi seperti saya katakan tadi, saya masih harus menunggu informasi resmi yang disampaikan pihak berwenang dan juga informasi-informasi yang beredar sebelumnya soal keributan terkait soal parkir dll.Tetapi saya sendiri sulit memahami bagaimana tiga orang bisa dibunuh dengan ditembak di kepala hanya karena keributan soal parkir tanpa adanya faktor-faktor lain dalam kasus ini”.

XS
SM
MD
LG