Tautan-tautan Akses

Video Perlihatkan Warga Libya Berusaha Selamatkan Dubes AS


Duta besar AS di Libya Christopher Stevens (kiri) bersama seorang pemilik toko di Tripoli, sebulan sebelum serangan ke konsulat AS yang menewaskannya. (Foto: Dok)

Duta besar AS di Libya Christopher Stevens (kiri) bersama seorang pemilik toko di Tripoli, sebulan sebelum serangan ke konsulat AS yang menewaskannya. (Foto: Dok)

Sebuah video amatir memperlihatkan bagaimana warga Libya berusaha menyelamatkan duta besar AS dalam serangan ke konsulat AS di negara tersebut.

Sebuah video amatir muncul untuk memperlihatkan bahwa beberapa warga Libya berusaha menyelamatkan duta besar AS Christopher Stevens dari sebuah ruangan yang dipenuhi asap di gedung konsulat, dimana ia ditemukan tak sadar setelah terjadi serangan minggu lalu oleh sekelompok orang yang memrotes film yang menghina Nabi Muhammad.

Video tersebut, yang muncul di Internet dan salah satu salinannya dimiliki kantor berita Reuters di Benghazi, menegaskan laporan bahwa duta besar itu mati lemas setelah gedung tersebut dilalap api.

Cuplikan video tersebut juga memperlihatkan situasi pada saat kematian duta besar, dan memperlihatkan untuk pertama kalinya bahwa beberapa orang kemudian memaksa masuk ke dalam kompleks gedung untuk mencoba menyelamatkan Stevens setelah ia ditemukan terbaring sendiri, tanpa pengamanan, pada salah satu ruangan.

Sekelompok pemuda, yang merangsek ke dalam kompleks, terlihat memberitahu demonstran lain lewat cahaya obor dan telepon genggam bahwa mereka menemukan seseorang yang tampaknya orang asing terbaring di atas lantai.

“Ada seseorang di dalam…Ia orang asing, orang asing. Keluarkan dia,” ujar salah seorang pemuda, berteriak minta tolong.

“Keluarkan dia! Bawa keluar,” yang lain berkata.

“Pria ini masih hidup. Bawa dia keluar. Bawa dia keluar,” seru pria ketiga.

“Hidup, hidup! Tuhan Maha Besar,” seru kerumunan. Seseorang kemudian memanggil mobil.

“Beri jalan, apakah ada petugas medis? Ada yang bisa mendapatkan mobil dengan cepat?” laki-terdengar suara laki-laki lain berkata.

Stevens dan tiga staf kedutaan lainnya tewas ketika sekawanan pria bersenjata menyerang konsulat AS dan sebuah rumah perlindungan di kota sebelah timur Libya pada Selasa (11/9) malam. Para penyerang merupakan bagian dari kelompok yang menyalahkan Amerika atas film yang mereka bilang menghina Nabi Muhammad.
Petugas keamanan terpisah dari Stevens selama serangan, ujar para pejabat AS, akibat kerusuhan, asap dan baku tembak.

Identitas dan motif para penyerang masih tidak jelas. Para aktivis yang ambil bagian dalam protes tersebut mengatakan motifnya adalah kemarahan pada video yang diproduksi di California, yang menggambarkan Nabi sebagai seorang homoseksual dan playboy.

Beberapa pejabat Libya menyalahkan kelompok-kelompok radikal Islam yang terkait dengan al Qaeda atas serangan itu, seperti Ansar al-Sharia.

Potongan video tersebut menunjukkan Stevens terbaring di lantai dalam ruangan yang dipenuhi asap setelah para demonstran merangsek ke dalam kompleks dan membakar gedung. Beberapa menit kemudian ia dibawa dari ruangan tersebut lewat jendela, sebelum dibaringkan di atas lantai berbatu di halaman. Seorang pemuda terlihat menempelkan tangan di leher Stevens untuk memeriksa apakah ia masih bernafas.
Seorang demonstran yang menggunakan kaos putih dan memanggul Stevens dari ruangan dipeluk oleh demonstran lain sebagai tanda terima kasih.

Beberapa detik setelah para pemrotes menemukan Stevens masih hidup, terdengar seruan dari seorang pemuda: “Bawa ia ke mobil saya, bawa ke mobil saya.”

Seorang dokter jaga di ruang gawat darurat di Pusat Medis Benghazi malam itu mengatakan bahwa warga sipil membawa duta besar pada sekitar jam 1 dini hari.

Meski dokter tersebut melakukan pernafasan buatan selama 45 menit, Stevens tewas karena sesak nafas akibat mengirup asap. Mayatnya kemudian diserahkan pada AS.

Seorang diri

Fahd Al-Bakoush, aktivis muda yang mengambil video tersebut, mengatakan ia melihat duta besar “menggerakkan bibirnya dan matanya bergerak dan badannya menghitam karena asap.”

Bakoush memberitahu Reuters bahwa penyerbuan ke kedutaan terjadi tak lama setelah beberapa penjaga Libya yang bersenjata di pintu masuk menolak permintaan pemrotes untuk masuk ke dalam kompleks dan menurunkan bendera AS.

Ia mengatakan bahwa kekerasan terjadi setelah tembakan yang diluncurkan dari kompleks tersebut untuk menakut-nakuti para demonstran itu mengompori pemrotes yang marah di luar, menyebabkan kelompok garis keras di dalam kerumunan melemparkan granat buatan tangan dan granat roket.

Tak lama kemudian, hampir 100 orang demonstran merangsek ke dalam kompleks yang luas hampir tanpa perlawanan dari petugas keamanan. Mereka bebas memasuki kompleks di daerah Al-Hawari yang mewah.

Bakoush mengatakan ia baru sadar esok harinya bahwa yang mereka temukan adalah duta besar dan terkejut karena ia dibiarkan seorang diri di dalam villa tersebut tanpa penjagaan seorang pun.

“Saya tidak menyangka duta besar akan sendirian dan saya pikir duta besar akan menjadi yang orang pertama yang melarikan diri,” ujarnya.

Al-Qaeda di Semenanjung Arab mengatakan dalam pernyataan bahwa serangan pada Selasa tersebut sebagian dipicu oleh kematian Abu Yahya al-Libi, pemimpin al Qaeda Libya di Pakistan yang tewas karena serangan AS.

Juru bicara Presiden AS Barack Obama mengatakan minggu lalu bahwa para pejabat pemerintah tidak memiliki bukti bahwa serangan itu telah direncanakan sebelumnya, sebuah pernyataan yang menambah kebingungan atas insiden tersebut. Tak lama setelah serangan tersebut, para pejabat AS yang minta dirahasiakan namanya, dikutip secara luas bahwa mereka yakin serangan itu telah direncanakan dan diorganisir. (Reuters/Suleiman Al-Khalidi)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG