Tautan-tautan Akses

AS

Upah Minimum di AS Tak Selalu Layak untuk Hidup


Seorang pekerja restoran cepat saji mengangkat tangannya dalam sebuah demonstrasi menuntut upah $15 per jam, di Empire State Plaza, Albany, New York (15/4).

Seorang pekerja restoran cepat saji mengangkat tangannya dalam sebuah demonstrasi menuntut upah $15 per jam, di Empire State Plaza, Albany, New York (15/4).

Jejaring sosial ramai baru-baru ini dengan perbincangan dan bahkan perdebatan, setelah CEO perusahaan transaksi kartu kredit, Gravity Payments memangkas gajinya sendiri dan menaikkan gaji minimum bagi pegawainya.

CEO Dan Price tadinya berpenghasilan hampir sejuta dolar (hampir Rp 13 miliar) setahun tetapi memotongnya ke $70 ribu. Ia pun mematok gaji minimum bagi pegawainya pada $70 ribu setahun, alias sekitar 75 juta rupiah sebulan, sebelum potong pajak (biasanya sekitar 20an persen gaji).

Kata Price, "Ada penelitian dari Universitas Princeton yang mengukur kaitan tingkat penghasilan dengan kebahagiaan. Hasilnya, ambang bahagia berada di $70.000"

Langkah ini tentunya disambut baik pegawai, apalagi mengingat kota Seattle, negara bagian Washington tempat Gravity bermarkas termasuk salah satu kota termahal di AS. Sewa apartmen rata-rata sebulan mencapai kisaran Rp 20 juta sebulan. Saat ini, gaji rata-rata karyawan adalah $48.000 setahun alias sekitar 51 juta rupiah sebulan, sebelum potong pajak.

Kate Kramer yang bekerja di bagian Human Resources mengatakan, dengan kenaikan ini ia bisa lebih sering pulang kampung bertemu keluarga. "Saya juga bisa mulai menabung di tabungan hari tua yang disediakan Gravity", kata Kramer.

Berita seputar pengusaha dermawan ini beredar di saat pekerja restoran siap saji di ratusan kota di Amerika berdemo menuntut kenaikan upah ke angka $15 atau sekitar Rp 200 ribu sejam, hampir dua kali lipat penghasilan mereka sesuai UMR masing-masing wilayah. Menurut para pekerja, standar UMR belum tentu bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka yang terus meningkat.

Seorang pengunjuk rasa di California di Pantai Barat Amerika berkata, "Perekonomian AS setiap tahun membaik, tetapi gaji kami tetap". Sementara seorang ibu yang bekerja di restoran siap saji di New York di Pantai Timur mengatakan, "Upah saya $8,75 sejam. Saya tinggal di penampungan tunawisma karena tidak kuat bayar kontrak apartmen di New York. Mengapa pemerintah harus membantu menopang orang seperti saya? Saya ingin mandiri!"



Tuntutan para pekerja industri restoran siap saji ini banyak mendapat dukungan di jejaring sosial dengan tweet-tweet bertagar #FightFor15. Robert Reich, mantan Menteri Tenaga Kerja yang sekarang pengajar University of California at Berkley, telah lama menyoroti meningkatnya kesenjangan penghasilan di AS. Ia akhirnya ikut berdemo bersama pekerja restoran siap saji yang melakukan walk-out dari restoran di Oakland, California.

Tetapi banyak pula yang menolak, karena menganggap $15 terlampau tinggi bagi pekerjaan yang relatif tidak memerlukan keahlian atau pendidikan tinggi. Blogger Matt Walsh lewat blog konservatif The Blaze menulis, "Gaji Anda akan lebih tinggi dari sebagian polisi. Gaji Anda akan melebihi petugas pemadam kebakaran".

Menurut Walsh, pramusaji restoran hanyalah pekerjaan sementara sebelum mencari pekerjaan permanen yang lebih berduit. Walsh pun mencontohkan, ia sendiri baru meraih penghasilan $15 sejam setelah 10 tahun bekerja di bidangnya.

Saat ini, pemerintahan Barack Obama sedang menggulirkan proposal menaikkan upah minimum federal ke angka bulat $10,10. Tetapi upaya ini selalu terganjal di Kongres yang dikuasai partai oposisi Republik. Upah minimum federal saat ini adalah $7,25 (hampir Rp 93 ribu) sejam. Angka ini belum dinaikkan sejak 2009.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG