Tautan-tautan Akses

Tim Ilmuwan Temukan Cara Mudah Deteksi Alzheimer


Para pasien Alzheimer menjalani sesi terapi di pusat perawatan Alzheimer di Mexico City, Meksiko (foto: ilustrasi).
Para pasien Alzheimer menjalani sesi terapi di pusat perawatan Alzheimer di Mexico City, Meksiko (foto: ilustrasi).

Menemukan obat untuk Alzheimer adalah tugas yang sangat rumit, karena sampai kini ilmuwan belum mengetahui penyebab penyakit tersebut. Begitu gejala muncul, kehilangan daya ingat bertahap tidak bisa terelakkan dan obat yang tersedia hanya mampu melambatkan proses itu. Namun, peneliti percaya, penyakit itu berkembang secara perlahan, selama bertahun-tahun, sehingga mendeteksi sebelum gejala muncul, mungkin memberi pasien kesempatan lebih baik untuk hidup lebih lama.

Salah satu hal yang diketahui peneliti tentang Alzheimer, yang menjangkiti hampir 50 juta orang di seluruh dunia, adalah penyakit itu menghasilkan protein beracun yang disebut amyloid beta. Protein tersebut bisa dideteksi dengan memindai otak atau menganalisis cairan serebrospinal, tetapi kedua cara itu terlalu mahal dan tidak praktis untuk pemeriksaan berskala besar.

Tim ilmuwan di Australia dan Jepang melakukan terobosan dalam mendeteksi penyakit itu.

Profesor Colin Masters pada University of Melbourne, Australia, mengatakan, "Kami mengembangkan tes darah yang super sensitif yang bisa memperkirakan apakah seseorang akan mengidap penyakit ini."

Tes itu menggunakan plasma darah yang disiapkan secara khusus dan magnet yang kuat. Dilakukan pada sampel darah dari 252 pengidap Alzheimer di Australia dan 121 di Jepang, usia 60 sampai 90 tahun, tes darah itu terbukti hampir 90 persen akurat.

Peneliti kedua, pemenang Hadiah Nobel Kimia, Koichi Tanaka, dari Jepang mengatakan ilmuwan tetap harus menemukan obat Alzheimer.

"Kalau dokter mengatakan Anda mungkin berisiko mengidap Alzheimer dalam 20 sampai 30 tahun, dalam situasi di mana tidak ada obat, Anda tidak akan bisa melakukan apapun kecuali merasa cemas akan hasil tes tersebut," kata Tanaka.

Beberapa perusahaan besar biofarmasi di seluruh dunia menyatakan minat mereka pada tes baru itu, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum diperkirakan uji klinis. [ka/jm]

XS
SM
MD
LG