Tautan-tautan Akses

Pentagon: Situasi di Ramadi Masih Terus Berubah


Seorang pejuang etnis Sunni Irak yang ikut melawan militan ISIS siaga di Ramadi utara hari Sabtu (16/5).

Seorang pejuang etnis Sunni Irak yang ikut melawan militan ISIS siaga di Ramadi utara hari Sabtu (16/5).

Amerika Serikat menyatakan situasi di Ramadi, Irak, masih terus berubah-ubah, meskipun kelompok Negara Islam (ISIS) mengklaim telah merebut ibukota provinsi terbesar di Irak itu, Anbar.

Departemen Pertahanan Amerika membantah klaim ISIS bahwa kelompok itu telah merebut Ramadi. Ketidakpastian mengenai nasib Ramadi muncul sementara para legislator Amerika memuji Pasukan Khusus Amerika atas serangan mereka di Suriah Timur yang menewaskan seorang pemimpin senior ISIS.

Kolonel Steve Warren, seorang jurubicara Pentagon mengatakan, situasi di Ramadi masih terus berubah-ubah. Ia mengatakan koalisi pimpinan Amerika mendukung pasukan Irak dengan kekuatan udara.

Hari Minggu, pasukan koalisi melancarkan tujuh serangan udara yang menarget beberapa unit taktis ISIS, menghancurkan empat gudang logistik, tiga posisi tempur, dua bangunan yang dikuasai pemberontak, dua senapan mesin berat dan dua kendaraan. Serangan-serangan udara juga dilancarkan terhadap target-target ISIS di dekat Bayji, Fallujah, Mosul, Sinjar dan Tal Afar.

Kelompok ISIS berusaha keras memasuki pusat kota Ramadi hari Jumat. Desakan terakhir militan itu dimulai hari Minggu dengan pengeboman yang menewaskan sedikitnya 10 personel keamanan Irak. Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi mendesak pasukan Irak agar tidak meninggalkan pos-pos mereka dan memerintahkan milisi Syiah agar bersiap-siap terjun dalam pertempuran memperebutkan provinsi Anbar.

Ilmuwan politik senior RAND Corporation dan perwira karier Angkatan Darat Amerika Rick Brennan mengatakan, masih ada kantong-kantong yang dikuasai pasukan Irak di dalam wilayah Ramadi.

"Masih diperebutkan. Direbutnya Pusat Operasi Anbar oleh ISIS dan dikibarkannya bendera mereka di sana merupakan hal signifikan. Tetapi, tidak lama setelah mereka di sana, mereka harus bubar dan berpencar ke daerah-daerah lain karena takut akan serangan-serangan udara Amerika. Jadi pada dasarnya ini memang merupakan kemenangan taktis bagi ISIS, tetapi pertempuran masih berlangsung," ungkap Brennan.

Brennan menambahkan, mesikpun pasukan yang dipimpin Irak berhasil merebut kembali kota Tikrit pada awal April, ISIS masih menguasai Fallujah dan Hit di bagian barat, serta sebagian fasilitas penyulingan minyak di dekat Bayji dan Mosul di utara.

Pentagon menyatakan, pada bulan April, sejak serangan udara yang dipimpin Amerika dimulai Agustus lalu, ISIS telah kehilangan antara 25 dan 30 persen wilayah yang dikuasainya di Irak.

Di Suriah, tentara telah mendesak mundur para anggota ISIS dari Palmyra, kota kuno yang ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh PBB, dalam pertempuran yang menurut laporan menewaskan ratusan orang.

Para legislator Amerika telah memuji Pasukan Khusus Amerika atas serangan di Suriah Timur Jumat malam hingga Sabtu yang menewaskan pemimpin senior ISIS Abu Sayyaf dan menghasilkan penangkapan istrinya, Umm Sayyaf. Istri Abu Sayyaf itu diduga seorang anggota ISIS yang kemungkinan besar berperan dalam aktivitas teror kelompok tersebut.

Dalam acara televisi CBS Face the Nation, ketua komisi intelijen DPR Amerika Devin Nunes mengatakan ini merupakan taktik yang telah lama ia dan rekan-rekannya anjurkan sebagai cara untuk mengumpulkan data intelijen.

"Diperlukan keberanian pemerintahan Obama dan militer Amerika untuk melakukan tindakan seperti ini bersama-sama. Aksi ini berhasil. Kami gembira mereka kembali dengan aman. Sekarang, selama beberapa pekan mendatang, kita akan tahu apa yang dapat mereka kumpulkan di sana," ujar Nunes.

Nunes menyebut strategi Amerika terhadap ISIS merupakan strategi pengurungan yang tidak akan melemahkan atau menghancurkannya karena kelompok militan itu telah meluas keluar Irak dan Suriah hingga ke Afrika Utara.

XS
SM
MD
LG