Tautan-tautan Akses

Petinggi Houthi di Yaman Tawarkan Gencatan Senjata dengan Saudi


Seorang pria tua berdiri di antara puing-puing pabrik pipa dan pompa air Alsonidar Group yang terkena serangan udara pimpinan Arab Saudi di Sana'a, Yaman (22/9).
Seorang pria tua berdiri di antara puing-puing pabrik pipa dan pompa air Alsonidar Group yang terkena serangan udara pimpinan Arab Saudi di Sana'a, Yaman (22/9).

Arab Saudi belum menanggapi usul yang disampaikan Yaman secara terbuka lewat situs resmi di Yaman.

Seorang petinggi di gerakan pemberontak bersenjata Houthi-Yaman mengatakan akan berhenti menyerang sasaran di sisi perbatasan Arab Saudi, jika koalisi udara pimpinan Saudi berhenti membom sasaran Houthi di dalam wilayah Yaman dan mencabut pemblokiran negara itu.

Usul itu disampaikan hari Minggu (25/9) oleh Saleh Al Samad, pemimpin dewan politik Houthi yang didukung Iran, yang sedang berupaya merebut kendali dari pemerintah Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi yang diakui masyarakat internasional.

Samad, yang pejuang-pejuangnya didukung oleh kelompok Syiah Iran, menyerukan kepada Arab Saudi untuk berhenti melakukan apa yang disebutnya sebagai “agresi darat, laut dan udara”. Ia juga menyerukan kepada Arab Saudi untuk “menghentikan bantuan lewat udara dan mencabut pemblokiran angkatan laut Yaman."

Arab Saudi belum menanggapi usul yang disampaikan Yaman secara terbuka lewat situs resmi di Yaman.

Kelompok Houthi, yang menentang pemerintahan Mansour Hadi pada 2014, bersekutu dengan tentara yang setia kepada mantan presiden Ali Abdullah Saleh. Mereka kemudian menduduki ibukota Sana’a dan memaksa Presiden Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi.

Para pendukung Mansour Hadi telah berulang kali menuduh Saleh menggunakan para pejuang Negara Islam (ISIS) dan al-Qaida untuk melawan pemerintah.

Guna menanggapi kelompok Houthi, Arab Saudi menggalang aliansi dengan negara-negara beraliran Sunni di kawasan untuk melancarkan operasi militer lewat serangan udara terhadap Yaman. Operasi untuk mendukung Presiden Mansour Hadi itu dilakukan mulai Maret 2015 setelah pemimpin Yaman itu kembali ke kota pelabuhan Aden.

PBB mengatakan sedikitnya 10 ribu orang, lebih dari separuhnya adalah warga sipil, telah tewas dalam konflik itu. [em]

XS
SM
MD
LG