Tautan-tautan Akses

Pesawat Antariksa NASA Hadapi Uji Terbang Penting


Para teknisi dan ahli NASA bersiap-siap untuk uji terbang pesawat antariksa pada hari Kamis (4/12) yang dirancang untuk misi antariksa, termasuk mengirimkan astronot ke Mars. Kalau cuaca memungkinkan, kapsul antariksa generasi baru bernama Orion, tanpa astronot, akan mengelilingi Bumi dan mendarat di Samudera Pasifik, menguji berbagai sistem.

Para teknisi dan ahli NASA bersiap-siap untuk uji terbang pesawat antariksa pada hari Kamis (4/12) yang dirancang untuk misi antariksa, termasuk mengirimkan astronot ke Mars. Kalau cuaca memungkinkan, kapsul antariksa generasi baru bernama Orion, tanpa astronot, akan mengelilingi Bumi dan mendarat di Samudera Pasifik, menguji berbagai sistem.

Pesawat luar angkasa AS yang dirancang untuk menerbangkan astronot keluar orbit Bumi pertama kalinya sejak program bulan Apollo era 1960an dijadwalkan meluncur Kamis (4/12) dalam uji terbang yang lama ditunggu.

Versi tanpa awak kapsul Orion, dibangun oleh Lockheed Martin untuk NASA, akan diusung oleh roket Delta 4 Heavy pada pukul 7:05 pagi waktu setempat dari Stasiun Pangkalan Udara di Florida, ujar para pejabat terkait pada hari Selasa (2/12).

Uji coba pada hari Kamis (4/12) akan diikuti oleh peluncuran kapsul Orion kedua, yang juga tanpa awak, empat tahun kemudian, pada penerbangan debut roket Space Launch System NASA yang masih dikembangkan. Penerbangan tersebut akan mengantarkan kapsul mengelilingi bulan. Penerbangan Orion yang ketiga, direncanakan pada tahun 2021, diharapkan akan membawa astronot.

Pada akhirnya, NASA berencana untuk menggunakan Orion dan roket SLS untuk mengirimkan kru ke planet Mars, tujuan utama program antariksa manusia AS. Astronot belum pernah keluar orbit bumi sejak program bulan Apollo tahun 1969-1972.

“Hari Kamis adalah hari penting untuk kita,” Manajer Program NASA Orion Mark Geyer mengatakan pada wartawan. “Saya berharap semuanya berjalan dengan sempurna...tapi dalam uji terbang seperti ini...kami ingin menemukan berbagai hal di luar kemampuan pesawat ciptaan kami dan keahlian kami untuk mempelajarinya dan memperbaikinya.”

Roket tersebut, dibangun dan diterbangkan oleh United Launch Alliance, perusahaan gabungan Lockheed Martin dan Boeing, akan melontarkan kapsul sejauh 3.600 mil (5.800 km) dari Bumi sehingga bisa kembali lagi ke atmosfir dengan kecepatan 20.000 mil per jam (32.200 km per jam).

Salah satu tujuan utama penerbangan selama empat setengah jam ini adalah untuk menguji seberapa baik perisai panas Orion tahan dari suhu sekitar 2.200 Celsius yang akan dihadapinya ketika kembali.

Uji coba penting lainnya adalah saat 11 parasut kapsul tersebut diluncurkan untuk mengurangi kecepatannya jatuh ke bumi menjadi 20 mph (32 kph) agar bisa jatuh dengan lembut di Samudera Pasifik.

NASA ingin menggunakan kembali kapsul untuk menguji sistem penyelamatan darurat yang dibutuhkan bila terjadi kecelakaan dalam peluncuran. Para teknisi juga ingin mengambil data yang dikumpulkan oleh sensor yang dipasang pada kapsul Orion yang akan mencatat situasi yang dihadapi dalam penerbangan hari Kamis (4/12) nanti.

XS
SM
MD
LG