Tautan-tautan Akses

Penerima Transplantasi Organ Berisiko Besar Kena Kanker

  • Art Chimes
  • Zefanya Rampengan

Transplantasi ginjal paling umum dilakukan di Amerika. Namun, menurut hasil penelitian terbaru oleh Lembaga Kanker Amerika, penerima transplantasi organ beresiko besar terkena kanker.

Transplantasi ginjal paling umum dilakukan di Amerika. Namun, menurut hasil penelitian terbaru oleh Lembaga Kanker Amerika, penerima transplantasi organ beresiko besar terkena kanker.

Sebuah penellitian baru menemukan bahwa penerima transplantasi organ beresiko jauh lebih besar terkena kanker dibanding populasi umum, meskipun alasannya masih belum jelas.

Virus seringkali memicu pertumbuhan kanker, dan sistem kekebalan tubuh membantu mengendalikan virus itu. Tetapi, obat-obatan membantu penerima transplantasi menekan sistem kekebalan tubuh mereka, sehingga mereka tidak menolak organ baru tersebut.

Para peneliti telah mengetahui bahwa penerima transplantasi lebih mungkin terkena kanker, tetapi penelitian baru ini menunjukkan seberapa besar kemungkinan tersebut.

Kepala penelitian Eric Engles dari Institut Kanker Amerika mengatakan bahwa resiko penerima transplantasi organ terkena kanker dapat berlipat dua selama setahun setelah transplantasi.

"Jadi, jika tujuh dari setiap 1.000 orang populasi umum diduga akan berisiko terkena kanker, kami mengamati sekitar dua kalinya, sekitar 13 atau 14 di antara 1.000 pasien transplantasi yang diikuti selama satu tahun berisiko terkena kanker," paparnya.

Engles dan rekan-rekannya menggunakan catatan dari 175.000 pasien transplantasi di Amerika. Transplantasi ginjal adalah yang paling umum, diikuti oleh hati, jantung, dan paru-paru.

Kanker kadang-kadang muncul di organ transplantasi. Kanker ginjal adalah yang paling umum pada penerima ginjal, demikian juga, kanker paru-paru di antara penerima paru-paru.

Tetapi, kanker lain tidak memiliki kaitan langsung dengan organ yang baru dicangkok. Sebagai contoh, kanker yang paling umum di antara penerima transplantasi organ adalah lymphoma non-Hodgkin, yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

"Ini terlihat pada orang yang kekebalannya terganggu virus, virus Epstein-Barr. Kami melihat resiko yang sangat tinggi untuk kanker ini, khususnya di kalangan penerima paru-paru. Menurut kami risiko tinggi itu mungkin berkaitan dengan kenyataan bahwa mereka khususnya mengalami penekanan kekebalan tubuh yang kuat,” papar Engles lebih jauh.

Meskipun pasien transplantasi mungkin menghadapi risiko dua kali lipat untuk terkena kanker, Engles mengatakan risiko transplantasi lainnya juga harus diperhitungkan, termasuk penolakan organ dan infeksi, dan manfaat prosedur itu.

"Transplantasi adalah terapi yang menyelamatkan nyawa dan merupakan salah satu keajaiban kedokteran modern. Kanker adalah salah satu komplikasi penting dari transplantasi, tapi itu bukan satu-satunya," ujarnya.

Penelitian Eric Engels, ilmuwan dari Lembaga Kanker Amerika ini dimuat dalam jurnal American Medical Association (JAMA).

XS
SM
MD
LG