Tautan-tautan Akses

Peneliti AS Kembangkan Obat untuk Hambat Patogen ke dalam Tubuh


Salah seorang anak penderita leishmaniasis (foto: dok). Tim peneliti AS berhasil melakukan pemblokiran sel dengan parasit yang menyebabkan leishmaniasis, penyakit tropis yang disebabkan parasit yang ditularkan melalui gigitan lalat pasir.

Salah seorang anak penderita leishmaniasis (foto: dok). Tim peneliti AS berhasil melakukan pemblokiran sel dengan parasit yang menyebabkan leishmaniasis, penyakit tropis yang disebabkan parasit yang ditularkan melalui gigitan lalat pasir.

Peneliti Amerika mencoba membuat obat yang mampu menghambat masuknya patogen ke dalam sel-sel tubuh manusia - sebelum mereka bisa menimbulkan penyakit.

Cepat atau lambat, menurut Abhay Satoskar, guru besar patologi di Universitas Negeri Ohio, kekebalan terhadap obat menjadi masalah dalam upaya membasmi organisme atau patogen penyebab penyakit.

Ia mengatakan, "Setiap kali kita minum obat untuk membunuh patogen, patogen-patogen itu pintar dan akhirnya punya strategi untuk membuat obat tidak manjur."

Umumnya bakteri, virus dan parasit harus masuk ke sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia untuk bereproduksi dan menyebabkan penyakit. Satoskar memimpin penelitian di Universitas Negeri Ohio untuk membuat senyawa yang menghalangi masuknya patogen ke dalam sel-sel itu.

Obat percobaan itu menarget enzim sel alami - disebut P13K - yang memungkinkan patogen menembus dinding sel. Senyawa itu mengubah aktivitas kimia P13K, menghalangi masuk ke sel.

Tim ini menunjukkan keampuhan strategi pemblokiran sel dengan parasit yang menyebabkan leishmaniasis, penyakit tropis yang disebabkan parasit yang ditularkan melalui gigitan lalat pasir. Juga dikenal sebagai leishmania, sekitar 1,5 juta kasus baru didiagnosis setiap tahun. Penyakit itu menyebabkan luka terbuka pada kulit dengan bentuk yang tidak jelas. Penyakit itu tidak hanya sejak lama ada di banyak bagian dunia, tapi para pakar mengatakan kini mereka berpaling ke tentara Amerika yang pulang dari Afghanistan.

Ada obat untuk mengobati leishmania, menurut Satoskar, yang ampuh hingga 90 persen untuk menyembuhkan penyakit itu. Tetapi, Satoskar mengatakan obat itu punya banyak efek samping, termasuk anemia, penurunan berat badan dan masalah syaraf, dan banyak orang tidak menuntaskan pengobatan suntikan selama 21 hari.

Menggunakan tikus percobaan, Satoskar mengatakan, peneliti membandingkan keampuhan obat yang ada itu dengan terapi, yang sedang dikembangkan timnya. Satoskar mengatakan obat baru itu sama ampuh untuk mengobati leishmania, dan kerja strategi penghambat sel itu kemungkinan bisa melawan organisme atau patogen penyebab penyakit.

Satoskar juga tertarik untuk mempelajari apakah senyawa percobaan itu dapat digunakan sebagai obat semprot kulit untuk mencegah infeksi leishmania ketika seseorang digigit lalat pasir.

Artikel mengenai pencegahan leishmania dengan menghambat parasit masuk ke sel-sel kekebalan tikus itu diterbitkan dalam jurnal Proceeding of National Academy of Sciences.

XS
SM
MD
LG