Tautan-tautan Akses

Pasien Vegetatif Mungkin Bisa Berkomunikasi


Penelitian baru menyebut bahwa otak pasien yang vegetatif sebetulnya berfungsi dengan normal.

Penelitian baru menyebut bahwa otak pasien yang vegetatif sebetulnya berfungsi dengan normal.

Mungkin ini kedengarannya seperti kisah sains fiksi. Apakah pasien yang berada dalam kondisi vegetatif atau tidak sadar sebenarnya sadar? Dan mungkin dengan teknologi baru, mereka bisa berkomunikasi? Kondisi semacam itu disebabkan stroke, kerusakan otak, dan serangan jantung. Ada penelitian terbaru yang bisa memberi harapan bagi pasien-pasien ini.

Selama lebih dari dua dasawarsa, Rom Houben didiagnosa berada dalam kondisi vegetatif setelah kecelakaan mobil. Tapi, para dokter kemudian menemukan lewat alat pemindai otak bahwa Houben sebetulnya sadar dan otaknya berfungsi dengan normal.

Awalnya, pria Belgia berusia 46 tahun itu tampaknya bisa berkomunikasi dengan gerakan jari-jarinya dibantu sebuah keyboard. Tapi, para pakar membantahnya. Dokter mengatakan Houben punya sedikit kesadaran tentang keadaan dirinya dan lingkungan sekitarnya, tetapi tidak bisa berkomunikasi.

Kini penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien yang mendapat diagnosa keliru, seperti Houben, dengan alat yang tepat pada suatu hari nanti bisa berkomunikasi langsung dari otak.

Lima puluh empat pasien yang tidak responsif ditempatkan dalam alat pemindai otak MRI, dan diminta untuk membayangkan kegiatan-kegiatan berbeda, misalnya bermain bola atau berjalan di dalam rumah. Gambaran-gambaran itu mengaktifkan bagian-bagian otak pada lima dari 54 pasien tadi.

Seorang pasien menjawab dengan benar lima dari enam pertanyaan tentang hidupnya. Profesor Steven Laureys dari Universitas Liege, Belgia adalah salah seorang peneliti kasus ini.

“Ini membuka lembaran baru di mana kita perlu mempersiapkan apa yang akan kita lakukan dengan tekonologi ini. Kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar. Pengetahuan ini akan berdampak besar pada kesehatan, etika dan hukum.” kata Profesor Laureys.

Peneliti lain, Dr. Nicholas Schiff dari Presbyterian Cornell Weill Medical Center di New York, mengatakan penelitan itu akan mengarah pada diagnosa yang lebih akurat tentang pasien yang tak sadarkan diri tapi berpotensi untuk berkomunikasi.

Schiff mengatakan penelitian ini tidak berlaku bagi pasien yang otaknya tidak berfungsi, yang hidup karena mesin, atau berada dalam kondisi koma. Tetapi, penelitian ini bisa memberi harapan baru bagi pasien yang tidak responsif yang mungkin suatu hari nanti bisa menyampaikan isi pikiran mereka lewat alat-alat khusus.

XS
SM
MD
LG