Tautan-tautan Akses

Para Calon TKI Tak Takut Resiko Bekerja di Luar Negeri


Para aktivis dan pekerja Indonesia melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR atas penyiksaan terhadap Sumiati, TKW Indonesia di Saudi Arabia, 23 November 2010.

Para aktivis dan pekerja Indonesia melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR atas penyiksaan terhadap Sumiati, TKW Indonesia di Saudi Arabia, 23 November 2010.

Bekerja di luar negeri dianggap sebagai tiket untuk keluar dari kemiskinan, dan untuk mencapainya para calon TKI rela mengambil resiko.

Hampir tujuh juta warga Indonesia bekerja di luar negeri – mencari penghasilan yang lebih besar dari pada di dalam negeri. Hampir separuh dari para Tenaga Kerja Indonesia atau TKI adalah perempuan, kebanyakan bekerja di Timur Tengah sebagai pembantu rumah tangga atau PRT.

Kondisi kerja mereka bisa berbahaya – sebagian disiksa atau bahkan dibunuh. Beberapa organisasi Muslim besar di Indonesia mendesak penghentian pengiriman perempuan untuk bekerja di negara-negara Arab. Namun, banyak calon TKI yang tidak khawatir bekerja di luar negeri.

Sekitar separuh TKI bekerja di dunia Arab. Dan sekitar 90 persennya adalah perempuan yang ingin bekerja di negara Muslim. Yuniyanti Chufaizah, dari Komisi Nasional Hak-hak Perempuan mengingatkan bahwa bekerja di luar negeri ada resikonya. Menurutnya, salah satu sebabnya karena di sebagian negara, PRT tidak diperbolehkan meninggalkan rumah-rumah majikan mereka sendirian untuk mencari bantuan jika terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan.

Yuniyanti mengatakan, “Para PRT di Arab Saudi dianggap sebagai isu domestik, jadi hal ini bukan urusan departemen tenaga kerja. Itulah sebabnya salah satu duta besar kita mencoba menggunakan jaringan agama untuk memecahkan masalah tersebut.”

Bekerja di luar negeri memiliki resiko yang berat, khususnya bagi tenaga kerja perempuan, akibat kekerasan oleh majikannya.

Bekerja di luar negeri memiliki resiko yang berat, khususnya bagi tenaga kerja perempuan, akibat kekerasan oleh majikannya.

Banyak TKI tersandung masalah di luar negeri dari para majikan yang mengelabui atau menyiksa mereka. Sebagian perempuan diperkosa atau dibunuh oleh majikan mereka.

Kelompok-kelompok tenaga kerja dan perempuan mengeluhkan pemerintah Indonesia melakukan terlalu sedikit untuk meindungi TKI-nya, meskipun pemerintah memuji para TKI atas devisa senilai enam juta dolar yang mereka kirim ke Indonesia setiap tahunnya.

Arab Saudi dan Indonesia tidak memiliki perjanjian untuk memastikan agar kontrak yang ditandatangai para PRT, dihormati.

Hasilnya, 12 organisasi Muslim di Indonesia mendesak penghentian pengiriman perempuan ke negara-negara Arab karena kurangnya peraturan, membuka pintu bagi pelecehan.

Sulam Iqbal, Sekretaris Jenderal Nadhlatul Ulama, organisasi Muslim terbesar di Indonesia mengatakan, “Laki-laki boleh pergi. Tetapi untuk perempuan, kita harus tunggu sampai Nota Kesepahaman ditandatangani. Kami ingin melindungi mereka.”

Indonesia dikagetkan dengan beberapa kasus baru-baru ini mengenai dua perempuan di Arab Saudi: Sumiati, PRT yang disiksa majikannya, dan Kikim Komalasari yang jenazahnya ditemukan di tempat sampah. Berita tersebut terdengar ketika jutaan Muslim sedang melakukan ibadah haji.

Nuryanah, seorang calon TKI perempuan yang hendak pergi ke Arab Saudi mengatakan, “Perasaan takut memang ada. Kalau bisa menelepon kantor di sana, cari cara. Pernah sama teman-teman seperti itu “gimana ya nanti?” Ya namanya manusia kita hanya bisa berusaha, siapa tahu nasib kita baik, kita berdoa saja.”

Kedua saudara perempuan Nuryanah bekerja di Timur Tengah. Mereka memiliki majikan yang baik, dan upah mereka memungkinkan mereka membeli rumah, sapi dan sawah untuk menanam padi.

Itulah tiket untuk keluar dari kemiskinan, dan untuk mencapainya, kata Nuryanah, ia rela mengambil resiko.

XS
SM
MD
LG