Tautan-tautan Akses

Negara-negara Teluk Kecam Kudeta di Yaman


Anggota milisia Houthi berjaga-jaga di lokasi ledakan dekat istana presiden di Sanaa (7/2). (Reuters/Khaled Abdullah)

Anggota milisia Houthi berjaga-jaga di lokasi ledakan dekat istana presiden di Sanaa (7/2). (Reuters/Khaled Abdullah)

Pemimpin pemberontak Yaman membela kudeta itu dengan menyatakan tindakan tersebut untuk mengisi kevakuman politik dan demi kepentingan rakyat Yaman.

Negara-negara tetangga Yaman di Teluk Sabtu (7/2) mengecam pengambil-alihan negara itu oleh pemberontak Syiah dan menyebutnya sebagai "kudeta", sementara ribuan warga Yaman turun ke jalan-jalan untuk memprotes perebutan kekuasaan itu.

Dewan Kerjasama Teluk yang terdiri atas enam negara teluk, pimpinan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang diperintah kaum Sunni, menyebut tindakan pemberontak Houthi sebagai “eskalasi yang tidak bisa diterima."

Menurut mereka, aksi itu mengancam keamanan dan stabilitas Yaman. Tetapi pemimpin pemberontak Abdel-Malak al-Houthi membela pengambilalihan tersebut dalam pidatonya Sabtu dengan menyatakan tindakan itu untuk mengisi kevakuman politik dan demi kepentingan rakyat Yaman.

Selain protes di beberapa kota Yaman, termasuk ibukota, Sanaa, bom meledak Sabtu di dekat istana presiden, melukai setidaknya tiga orang.

Pemberontak Houthi membubarkan parlemen Jumat dan mengumumkan rencananya memerintah negara yang mayoritas penduduknya Sunni, dan terletak di Jazirah Arab, tepat di selatan Arab Saudi itu. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi, Houthi menyatakan akan mengganti parlemen dengan majelis nasional yang terdiri atas 551 anggota, dan kelak akan memilih dewan presiden beranggotakan lima orang untuk mengelola negara itu selama dua tahun.

Pemberontak Houthi menguasai Sanaa September lalu dan merebut istana presiden bulan lalu, memaksa Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi dan kabinetnya, yang didukung Amerika, mengundurkan diri.

XS
SM
MD
LG