Tautan-tautan Akses

Israel Terus Kecam Keputusan AS Soal Permukiman


Ron Dermer, Duta Besar Israel untuk AS, memberikan keterangan kepada media seusai bertemu dengan Presiden terpilih Donald Trump di Trump Tower, New York, 17 November 2016. (REUTERS/Mike Segar).

Ron Dermer, Duta Besar Israel untuk AS, memberikan keterangan kepada media seusai bertemu dengan Presiden terpilih Donald Trump di Trump Tower, New York, 17 November 2016. (REUTERS/Mike Segar).

Israel melanjutkan kecaman kerasnya terhadap Amerika Serikat karena keputusannya untuk tidak memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan penghentian pembangunan permukiman Israel.

Ron Dermer, Duta Besar Israel di Washington, menuduh pemerintahan Barack Obama berkomplot melawan negaranya dalam pemungutan suara minggu lalu. Kepada CNN, Senin, diplomat Israel itu mengatakan, “Yang konyol adalah, Amerika sebenarnya berada di belakang persekongkolan ini. Saya rasa ini hari yang sangat menyedihkan, sebuah babak memalukan.

Dermer mengatakan, Israel punya “bukti jelas” soal langkah Amerika itu dan bersedia berbagi bukti itu dengan pemerintahan mendatang yang dipimpin Donald Trump. Ia juga mengatakan, terserah kepada pemerintahan Trump jika kemudian mau mengungkapkannya ke publik.

Hari Jumat, Dewan Keamanan meloloskan resolusi yang menuntut “Israel segera menghentikan seluruhnya semua kegiatan permukiman di wilayah Palestina yang dikuasainya, termasuk Yerusalem timur.”

Amerika yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan tidak memanfaatkannya, sehingga diadopsilah langkah itu, yang merupakan resolusi pertama sejak 1979 yang mengecam kebijakan permukiman Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang marah memanggil Duta Besar AS Daniel Shapiro untuk membahas keputusan Amerika untuk abstain dalam pemungutan suara itu. Baik Departemen Luar Negeri Amerika maupun kantor PM Netanyahu tidak memberi komentar atas pertemuan hari Minggu itu.

Menyangkut resolusi itu, Netanyahu juga menyatakan mundur dari pertemuan yang dijadwalkan dengan PM Inggris Theresa May.Pertemuan itu sedianya berlangsung di sela-sela Forum Ekonomi Dunia pertengahan Januari mendatang.

Kementerian Luar Negeri Israel memanggil duta besar dari 14 negara yang mendukung resolusi hari Jumat itu. Namun, laporan-laporan menyebutkan, beberapa diplomat tidak memenuhi panggilan tersebut.

Netanyahu mengatakan kepada Kabinet Israel Minggu, resolusi itu ceroboh dan merusak. Ia menjelaskan bahwa AS dan Israel sebelumnya selalu sepakat bahwa Dewan Keamanan PBB bukanlah tempat untuk menyelesaikan isu permukiman. Ia menyebut keputusan AS untuk abstain, dan tidak menggunakan hak vetonya, “memalukan”.

“Sudah puluhan tahun pemerintahan Amerika dan pemerintah Isarel tidak sepakat soal permukiman. Tapi kita sepakat bahwa Dewan Keamanan bukan tempat untuk menyelesaikan isu ini. Kita tahu, jika membawa masalah ini ke Dewan Keamanan, negosiasi akan sulit dilangsungkan dan perdamaian akan lebih sulit diwujudkan. Saya katakan pada Menlu AS John Kerry, Kamis lalu, sesama teman jangan saling menjebloskan,” kata Netanyahu.

Palestina telah lama berargumentasi bahwa permukiman Yahudi di kawasan yang mereka inginkan menjadi bagian dari negara mereka di masa depan adalah ilegal dan merupakan hambatan besar bagi proses perdamaian.

Israel bersikeras, orang-orang Yahudi memiliki hak atas lahan yang mereka rebut pada perang tahun 1967 itu. Israel mengatakan, penolakan Palestina untuk mengakui hak Isarel untuk eksis merupakan sandungan besar bagi perdamaian.

Netanyahu memperingatkan kabinetnya, Minggu, keputusan PBB hari Jumat itu merupakan usaha Presiden Barack Obama untuk menegakkan kebijakan Timur Tengah Amerika sebelum ia mundur dari jabatannya dalam waktu kurang dari sebulan.

Perluasan permukiman Israel telah menegangkan hubungan antara Netanyahu dan Obama.

Tidak lama setelah resolusi PBB ini dikeluarkan, presiden terpilih Donald Trump mengatakan melalui Twitter, Israel mengalami kekalahan besar di PBB, dan itu akan mempersulit perundingan perdamaian. Namun, ia mengatakan, pemerintahannya kelak akan menyelesaikan masalah itu.

Trump, Senin (27/12), juga mengecam PBB. Melalui pesan Twitter, ia mengatakan “PBB memiliki potensi besar namun saat ini hanyalah sebuah klub bagi orang-orang untuk berkumpul, mengobrol dan bersenang-senang. Sungguh menyedihkan.” [ab/uh]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG