Tautan-tautan Akses

'Global Deaf Muslim' Berdayakan Penyandang Tuna Rungu Muslim AS

  • Arif Budiman

Dua orang pelajar tuna rungu berbicara dengan bahasa isyarat. Banyak muslim penyandang tuna rungu tidak bisa ikut kegiatan ke-Islaman karena langkanya penerjemah 'bahasa isyarat'.

Dua orang pelajar tuna rungu berbicara dengan bahasa isyarat. Banyak muslim penyandang tuna rungu tidak bisa ikut kegiatan ke-Islaman karena langkanya penerjemah 'bahasa isyarat'.

Global Deaf Muslim adalah organisasi yang berupaya memberdayakan warga Muslim AS penderita tuna rungu agar terlibat dalam berbagai kegiatan ke-Islaman.

Di salah satu ruang di Masjid Al Farooq, Atlanta, Georgia, sebuah kesibukan tengah berlangsung.

Seorang perempuan bernama Hijrah Hanif sedang mengajar bahasa isyarat kepada sekelompok orang. Ini bukan sekadar bahasa isyarat untuk bahasa Inggris, melainkan juga bahasa Arab.

Hamid adalah segelintir kecil aktivis yang menyokong kegiatan Global Deaf Muslim, sebuah organisasi yang bertujuan memberdayakan para penyandang tuna rungu. Organisasi yang berkantor pusat di Bethesda, Maryland, ini semakin gencar mengajak Muslim Amerika untuk belajar bahasa isyarat, sehingga bisa menjadi penerjemah bagi para penyandang tuna rungu di berbagai kegiatan Islami.

Sarah Kalimullah, mahasiswa Universitas Georgetown di Washington DC, termasuk salah seorang yang aktif mengkampanyekan kegiatan itu.

Ia mengatakan, “Sekitar 90 persen kegiatan Muslim di Amerika tidak menyediakan penerjemah bahasa isyarat. Kebanyakan penyandang tunarungu di berbagai negara bagian Amerika tidak pergi ke kegiatan-kegiatan Muslim karena tidak ada penerjemah. Saya berharap apa yang dilakukan Global Deaf Muslim ini bisa terus berkembang.”

Memperbanyak penerjemah bahasa isyarat selalu menjadi target Global Deaf Muslim dari tahun ke tahun. Kalimullah mengatakan bahwa hingga saat ini berbagai kegiatan Islamik sangat jarang didukung penerjemah, sehingga jarang dikunjungi Muslim penyandang tuna rungu. Kenyataan ini bukan karena ketiadaan dana, melainkan kekurangan sumber daya. Dewasa ini, katanya, di Amerika, jumlah penerjemah bahasa isyarat yang Muslim atau yang memahami Islam masih terbatas.

Kalimullah mengatakan bahwa Muslim penyandang tuna rungu, seperti halnya tuna rungu lain, dan keluarga mereka sering menghadapi masalah. Tidak jarang orang tua tidak memahami bahasa isyarat, sehingga anak mereka menjadi terisolasi. Sistem pendidikan juga sering mengasumsikan bahwa mereka yang memiliki masalah pendengaran dan mereka yang normal belajar dengan cara yang sama. Padahal, katanya, karena para penyandang tuna rungu tidak dididik dengan semestinya, mereka seringkali tertinggal.

Global Deaf Muslim terbilang aktif menggelar berbagai kegiatan. Dari waktu ke waktu, organisasi yang didirikan sejak tahun 2005 ini mengadakan seminar, lokakarya dan konperensi untuk mengungkapkan kebutuhan dan kondisi para Muslim yang tuna rungu kepada para imam, orang tua dan cendekiawan agama. Kegiatan itu juga biasanya digunakan untuk membahas masalah-masalah yang dianggap penting bagi mereka.

Sesuai nama yang disandangnya, Global Deaf Muslim juga memfasilitasi komunikasi antara Muslim penyandang tuna rungu di berbagai penjuru dunia untuk membantu mereka bertukar pengalaman dan memperkokoh iman dan persaudaraan umat Islam.

Global Deaf Muslim juga mengkoordinasikan kegiatan dan menyediakan sumberdaya untuk mendidik penyandang tuna rungu, sehingga mereka dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Islam dan tetap produktif sebagai anggota masyarakat. Contohnya, organisasi ini sedang merundingkan isyarat tangan universal untuk kata-kata dan konsep-konsep yang hanya eksis dalam Islam dan membuat video yang menarasikan Quran dalam bahasa isyarat.

Menurut Sarah Kalimullah dengan memanfaatkan komunikasi sebagai alat, Global Deaf Muslim dapat menciptakan suasana inklusif, di mana Muslim penyandang tuna rungu dan Muslim yang dapat mendengar dapat memahami satu sama lain, sehingga memperkecil jurang perbedaan di antara mereka.

XS
SM
MD
LG