Tautan-tautan Akses

Gedung Putih Konfirmasi Rusia Kembangkan ‘Kemampuan Anti-Satelit’


Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi pusat Perusahaan Roket dan Luar Angkasa "Energia" di Korolyov di luar Moskow, Rusia, 26 Oktober 2023. (Foto: Sputnik/Sergei Bobylev via REUTERS)
Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi pusat Perusahaan Roket dan Luar Angkasa "Energia" di Korolyov di luar Moskow, Rusia, 26 Oktober 2023. (Foto: Sputnik/Sergei Bobylev via REUTERS)

Gedung Putih, Kamis (15/2), mengonfirmasi Rusia kini sedang mengembangkan senjata anti-satelit. Konfirmasi itu disampaikan setelah seorang anggota Kongres memberikan peringatan atas apa yang digambarkannya sebagai ancaman keamanan nasional yang serius.

Semua mata tertuju ke langit setelah Washington mengonfirmasi bahwa Rusia – yang terdeteksi meluncurkan roket pada awal bulan ini – sedang mengerjakan teknologi yang menurut Gedung Putih dapat melanggar perjanjian yang melarang senjata pemusnah massal di antariksa.

“Saya dapat memastikan bahwa hal ini terkait dengan kemampuan anti-satelit yang sedang dikembangkan Rusia. Saya ingin memperjelas beberapa hal segera," ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby.

Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby berbicara saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington, 12 Februari 2024. (Foto: AP)
Juru bicara keamanan nasional Gedung Putih John Kirby berbicara saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington, 12 Februari 2024. (Foto: AP)

"Pertama, ini bukan kemampuan aktif. Meskipun upaya Rusia untuk mengembangkan kemampuan ini cukup meresahkan, tidak ada ancaman langsung terhadap keselamatan siapa pun. Kita tidak berbicara tentang senjata yang dapat digunakan untuk menyerang manusia atau menyebabkan kehancuran fisik di bumi ini," imbuhnya.

Kongres bertemu pada Kamis (15/2) untuk memberikan laporan tertutup mengenai masalah ini.

Anggota DPR dari Partai Republik Mike Turner mengepalai Komite Intelijen DPR, dan merupakan orang yang memberikan peringatan pada Rabu (14/2) tentang ancaman tersebut.

“Kami semua mendapatkan kesan yang sangat kuat bahwa pemerintah menanggapi hal ini dengan sangat serius dan bahwa pemerintah telah mempunyai rencana," katanya.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi pusat Perusahaan Roket dan Luar Angkasa "Energia" di Korolyov di luar Moskow, Rusia, 26 Oktober 2023. (Foto: Sputnik /Sergei Bobylev melalui REUTERS)
Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi pusat Perusahaan Roket dan Luar Angkasa "Energia" di Korolyov di luar Moskow, Rusia, 26 Oktober 2023. (Foto: Sputnik /Sergei Bobylev melalui REUTERS)

Para pejabat Pentagon mengatakan Angkatan Antariksa AS siap melakukan pertahanan. Sementara para analis mengatakan militer AS sadar akan bahaya yang ada di hadapan kita.

“Sementara pada masa lalu antariksa merupakan prioritas kedua bagi semua dinas militer lainnya, kini antariksa menjadi prioritas utama bagi Pentagon, dan mereka benar-benar mulai bergerak maju dalam hal ini," kata Todd Harrison, peneliti senior di American Enterprise Institute yang berfokus pada kebijakan pertahanan dan antariksa, kepada VOA.

Banyak aktivitas kita di Bumi – mulai dari sistem penentuan posisi global (global positioning systems/GPS) yang mengatur transportasi massal, sistem militer, hingga satelit cuaca – dikendalikan dari antariksa.

Gedung Putih Konfirmasi Rusia Kembangkan ‘Kemampuan Anti-Satelit
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:00 0:00

Harrison mengatakan negara-negara lain juga menyadari hal ini dan telah mengembangkan teknologi militer mereka sendiri.

“Kita menggunakan ruang angkasa untuk berbagai hal dalam militer, sehingga jika musuh dapat mengambil ruang dari kami dan menolak kemampuan kami untuk menggunakan sistem antariksa tersebut, mereka akan meniadakan salah satu keuntungan terbesar kita dalam militer AS. Oleh karena itu, negara-negara lain, khususnya Rusia dan China, telah mengembangkan kemampuan anti-satelit ini selama bertahun-tahun," katanya.

Kirby, yang sebelumnya mengatakan Rusia mungkin melanggar Perjanjian Antariksa dengan tindakan yang dilakukan sekarang, kini mengatakan langkah pertama Washington adalah diplomasi.

“Kami berencana untuk terlibat langsung dengan Rusia mengenai hal ini, dan juga dengan sekutu dan mitra-mitra kami," ujarnya.

Para ahli pengendalian senjata mencatat bahwa perjanjian 1967 tidak merinci konsekuensinya. Namun, mereka mengatakan, sebuah pelanggaran akan mengkhawatirkan negara-negara besar lainnya.

“Hal ini akan berdampak pada perekonomian global dan masyarakat secara luas. Jadi, China akan sangat prihatin. India akan sangat prihatin karena negara-negara tersebut memiliki hubungan yang lebih baik dengan Rusia dibandingkan dengan kita. Jadi, menurut saya akan ada teguran yang pedas. Itu mungkin cukup untuk mendorong Rusia untuk mundur," kata Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata, kepada VOA. [lt/em]

Forum

XS
SM
MD
LG