Tautan-tautan Akses

'Doctors Without Borders' Serukan Perlindungan Fasilitas Layanan Kesehatan di Yaman


Christopher Stokes, Dirjen badan amal medis Doctors Without Borders, berdiri di pintu masuk rumah sakit organisasi tersebut, setelah terkena serangan udara AS, di Kunduz, Afghanistan, 15 Oktober 2015.

Christopher Stokes, Dirjen badan amal medis Doctors Without Borders, berdiri di pintu masuk rumah sakit organisasi tersebut, setelah terkena serangan udara AS, di Kunduz, Afghanistan, 15 Oktober 2015.

Badan amal medis “Doctors Without Borders” mendesak adanya jaminan dari pihak-pihak yang bertikai di Yaman agar kegiatan mereka tetap dilindungi, sesuai hukum kemanusiaan internasional.

Dalam pernyataan hari Senin (25/1), badan medis yang dalam bahasa Perancis dikenal sebagai “Medecins Sans Frontieres” MSF mengatakan konflik yang berkobar itu telah mengabaikan aturan-aturan perang.

“Ini menimbulkan penderitaan luar biasa bagi warga yang terperangkap dalam zona konflik,” ujar Raquel Ayora, Direktur Operasi MSF.

“Tempat-tempat umum dibom dan diserang besar-besaran. Rumah sakit juga tidak terkecuali, meskipun fasilitas-fasilitas medis secara eksplisit dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional.”

MSF mengatakan sejak Oktober lalu fasilitas-fasilitas medisnya di Yaman telah dibom empat kali, dua rumah sakit, sebuah klinik dan ambulans ditembaki.

MSF menambahkan telah meminta Komisi Pencari Fakta Kemanusiaan Internasional untuk melakukan penyelidikan independen atas serangan terhadap salah satu rumah sakitnya.

“Kami melihat semakin ada upaya menyebut serangan terhadap fasilitas-fasilitas medis itu sebagai kesalahan,” ujar Ayora, ketika MSF menantikan penjelasan resmi atas insiden-insiden itu.

MSF mengatakan serangan pertama terjadi tanggal 26 Oktober lalu ketika serangan udara yang dilaporkan dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, menghantam sebuah rumah sakit yang didukung MSF di negara bagian Saada. Arab Saudi membantah pasukannya yang melancarkan serangan itu.

Pemboman terbaru terjadi tanggal 21 Januari lalu ketika serangkaian serangan udara di Saada menghantam sebuah ambulan milik rumah sakit yang didukung MSF di daerah itu, menewaskan enam orang termasuk pengemudi.

Pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi telah melakukan sejumlah serangan udara di Yaman sejak akhir Maret lalu, menarget pemberontak Houthi-Syiah yang didukung Iran, yang memaksa Presiden Abdu Rabu Mansour Hadi meninggalkan negara itu.

Pertempuran itu telah membuat Yaman, negara termiskin di kawasan Arab, terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan. PBB melaporkan 80% penduduk atau sekitar 21 juta orang, kini membutuhkan bantuan. [em]

XS
SM
MD
LG